날 잊지 말아요

Don't Forget Me

Title: 날 잊지 말아요 (Don’t Forget Me)

Author: Kim Na Na

Length: Two Shoot

Cast: Kris | Kim Joon Myun | Park Se Na

Genre: School life, romantic

Note: Leader time!!! Kali ini author lagi pingin memasangkan kedua leader ini. FF berikutnya tentang magnae time!! Sehun x Tao. Ok RCLnya di tunggu ^^

날 잊지 말아요

            “Huwa.. Se Na, kita tidak sekelas lagi…” kata Min Ji sambil memelukku. Hari ini tahun ajaran baru dimulai. Aku menjadi anak kelas 11 sekarang. Tahun lalu aku sekelas dengan Shim Min Ji , tapi sekarang aku harus berpisah dengan sahabatku ini. Sekolahku adalah sekolah terusan. Jadi dari TK hingga SMA terletak di satu kompleks. Tapi aku sendiri baru masuk di ke sini saat SMA..

“Aku juga sedih. Tapi tahun ini pun aku harus mencari ‘byeol wangja’-ku. Tahun kemarin aku tidak mendapat pentunjuk sedikit pun.” kataku sambil mengamati sebuah strap handphone berbentuk bintang.

“Haah… itu lagi. Apa kamu tidak bosan mencarinya terus?” kata Min Ji sambil melepaskan pelukannya. ”Ani. Aku akan terus mencarinya hingga aku bisa bertemu dengannya lagi.” kataku tegas. ”Terserah kamulah. Aku pergi dulu ya. Soalnya aku harus mengurus klub Inggrisku dulu.” “Baiklah, annyeong.” kataku sambil melambaikan tangan. Dia melambaikan tangannya dengan semangat lalu berlari pergi.

Bosan? Sepertinya daripada bosan mungkin lelah lebih tepat. Aku mencari byeol wangja sejak aku masih kecil hingga sekarang. ’Byeol wangja’ (star prince) adalah cinta pertamaku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku harus bisa menjadi yeoja chingu byeol wangja itu.

 

Flashback

          ”Appa, kita kapan pulangnya?” rengekku. ”Masih lama. Mungkin 1 sampai 1 jam setengah lagi.” kata appaku. Saat itu aku diajak appaku untuk mengunjungi suatu pesta yang diadakan oleh kantor appaku.

Tapi aku bosan di sini. Semua orang yang datang hanya orang dewasa saja. Tidak ada anak kecilnya. Aku lalu meminta ijin appaku untuk berjalan – jalan di taman. ”Baiklah, tapi jangan sampai tersesat.” kata appaku lalu ia kembali sibuk dengan urusan kantornya.

Aku lalu berjalan – jaln di taman sendiri. Tapi taman hotel ini terlalu luas untuk anak berumur 5 tahun sepertiku. Tak urung aku pun tersesat. Aku mulai takut karena langit yang semakin gelap dan udara yang semakin dingin.

”Appa.. Appa dimana?” kataku sambil menagis keras. ”Kamu tersesat?” kata sesorang membuatku terkejut. Aku melihat kebelakang, dan ternyata ada seorang anak laki – laki di belakangku. Aku seperti melihat pangeran – pangeran yang ada di buku dongengku keluar ketika melihat anak laki – laki itu.

”Aku tahu kok jalannya. Aku akan membawa kamu ke tempat appamu, tapi kamu harus menemaniku bermain. Aku bosan di sana terus.” katanya sambil tersenyum.

”Kalau aku mau menemanimu bermain, kamu benar – benar akan membawaku ke appaku?” isakku. ”Benar. Mana mungkin aku berbohong. Kajja, sekarang kita ke pohon besar yang ada di situ.” katanya sambil menarik tanganku. Kami pun mulai berlarian di taman itu menuju pohon besar yang ada di tengah taman.

”Nah ini pohon yang aku maksud. Kamu ikuti aku ya.” katanya sambil memanjat pohon itu. Aku pun mengikutinya. Kami mulai memanjat pohon itu. ”Haah.. akhirnya sampai puncaknya juga. Lihat pemandangannya indah kan?” katanya sambil menunjuk pemandangan yang ada di depan kami.

Karena hotel ini terletak di atas bukit, pemandangan kita yang kami lihat benar – benar indah. Lampu – lampu kota terlihat bagaikan permata yang berserekahan. ”Kyeopta…” gumamku.

”Ya kan. Aku suka melihat sesuatu dari tempat tinggi. Kamu jangan lihat itu saja. Coba lihat ke langit.” katanya sambil merentangkan tangannya. Aku melihat ke langit dan di sana langit penuh bintang.

”Kamu lebih manis jika tersenyum.” katanya membuatku terkejut. Sepertinya aku tanpa sadar tersenyum sendiri karena melihat pemandangan yang indah. Aku tidak tahu mengapa wajahku menjadi hangat. ”Kalau kamu sudah puas melihat kita turun. Nanti orang tua kita khawatir.” katanya sambil turun ke bawah.

”Aku takut turun!” seruku yang masih tertinggal di atas. ”Gwanchana. Kamu lompat saja. Aku akan menerimamu dari bawah,” katanya sambil merentangkan tangannya dan tersenyum. Aneh, rasa takut yang tadi sempat menggelayuti, hilang begitu saja. Aku melompat ke bawah dan langsung ditangkapnya. ”Gomawo.” kataku sambil.

”Kamu tidak lapar? Aku bawakan kue dari tempat pesta tadi.” katanya sambil mengeluarkan sebuah kantung kecil dari tasnya. ”Masissda.” kataku saat memakan kue yang ia bawa. Kami menikmati kue yang dia bawa sambil mengobrol banyak. Aku merasa senang berada di dekatnya.

Tiba – tiba aku mendengar suara ayahku. ”Se Na, Se Na, kamu dimana?” seru ayahku. “Bagaimana ini? Ayahku sudah datang, padahal aku masih ingin bermain bersamamu.” kataku mulai menangis lagi.

Dia juga terlihat bingung lalu melihat ke arah pita yang mengikat bungkus kue tadi. Dia mengambil bandul yang diletakan di tengah pita. “Nanti, jika kita bertemu lagi, kita akan bermain lagi. Ini sebagai tanda perjanjian kita. Kamu bawa satu, aku juga bawa satu. Dengan begini kita akan mudah saling mengenali.” katanya sambil meletakan bandul yang berbentuk bintang itu di telapak tanganku.

“Janji ya nanti kita main lagi.” isakku. ”Ne.” katanya sambil mengangguk penuh semangat. “Ah, ternyata kamu di situ. Ayo kita pulang, omma pasti menunggu kita.” kata appa sambil menggendongku. Aku hanya bisa melambaikan tangan kepada anak itu. Semoga besok aku bisa bertemu dia lagi.

Flashback End

Tapi meskipun setiap hari aku menunggunya dia tidak datang datang juga. Padahal aku sudah menjadikannya cinta pertamaku. Karena aku tidak tahu namanya, aku hanya memanggilnya byeol wangja. Semua temanku selalu tertawa mendengar ceritaku ini, tapi aku tetap cuek dan terus mencari byeol wangja. Bahkan aku masuk ke SMA ini karena tahu pakaian yang dipakai byeol wangja waktu itu adalah seragam TK sekolah ini.

”Kringggg… Kringggg.” bel berbunyi nyaring langsung membuyarkan lamunanku. ”Gawat aku bisa terlambat masuk kelas.” kataku sambil berlari menuju kelasku. Saat aku tiba di kelasku, aku terkejut melihat kerumunan siswi yang ada di depan kelasku.

”Ada apa?” tanyaku pada salah satu siswi. ”Kamu murid kelas ini? Kyaa kamu beruntung sekali!!” serunya dengan suara yang membuat aku menutup telingaku. ”Kamu akan menjadi teman sekelas 2 orang pangeran!!!” serunya lagi. Aku hanya bisa bengong. Seingatku tidak ada pangeran di sekolah ini.

”Siapa ya yang kamu maksud?” kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. ”Kamu tidak tahu mereka? Ya ampun!! Kamu murid baru?” katanya dengan wajah yang sangat terkejut. Aku menjadi kesal. Siapa sih mereka. Terus terang aku kurang mengerti hal – hal seperti itu. Selama ini yang ada di pikiranku hanya byeol wangja.

Aku lalu dengan cueknya berjalan masuk. Ini kelasku juga, terserah ada pangeran, ada raja, yang penting aku harus masuk dulu, batinku kesal. Akhirnya setelah dengan susah payah menembus kerumunan itu, aku berhasil masuk ke kelasku. ”Hah.. apaan sih? Mana itu pangeran?  menggangu saja. Appo..” kataku saat aku tanpa sengaja menabrak seseorang.

”Mianhae. Gwencahana?” kata namja itu. Namja yang di sampingnya hanya terus berjalan melewatiku. Seketika itu juga keremunan di belakangku langsung berteriak histeris. ”Gwenchana. Kan hanya begitu saja.” kataku sambil berjalan menuju mejaku.

Aku lalu duduk begitu saja di meja yang ada namaku. Terdengar lagi teriakan histeris kerumunan itu. Akh kenapa sih dengan yeojadeul itu? Sedikit – sedikit teriak – teriak. Lalu terdengar suara menggelegar dari arah pintu. ” Minggir!! Ini sudah jam masuk kelas. Kenapa kalian masih ada di sini hah? Cepat masuk ke kelas masing – masing!” Aku menoleh ke arah pintu. Ternyata teman namja yang tadi aku tabrak itu yang berteriak.

Kerumunan itu pun langsung bubar. ”Hah!! Dasar yeoja! Joon Myun, kamu kan ketua OSIS, harusnya kamu lebih tegas lagi.” katanya sambil memukul bahu namja yang tadi aku tabrak. ”Sudahlah Kris hyung, pagi – pagi jangan marah. Tidak baik baik untuk kesehatan. Lagi pula sebagai wakil ketua OSIS kamu harusnya lebih sabar.” kata namja yang bernama Joon Myun itu sambil berjalan meninggalkan temannya yang bernama Kris tadi. Kris hanya mengikuti sambil menggerutu. Aku terkejut saat mereka berjalan ke arahku dan duduk di dua bangku kosong yang ada di kanan dan kiriku.

Kutebak mereka pasti pangeran yang yeojadeul tadi maksud. Sebenarnya wajah mereka di atas rata – rata. Mungkin karena itu yeojadeul menyukai mereka. Apalagi Joon Myun itu ketua OSIS dan Kris adalah wakilnya, pasti alasan yeojadeul menyukai mereka bertambah. Tapi menurutku Kris itu agak sedikit menakutkan. Suaranya tadi benar – benar membuatku ngeri. Aish, tapi itu semua bukan urusanku. Aku harus mencari byeol wangjaku.

 

****

          Bel istirahat berbunyi nyaring. Selama pelajaran berlangsung banyak yeoja yang melirik ke arahku. Aku tahu mereka pasti ingin juga duduk di antara 2 pangeran ini. Kalau aku selama pelajaran tidak terlalu memerhatikan 2 orang di sebalahku ini. Pelajaran saja sudah membuat pusing apalagi harus menghabiskan waktu untuk mengamati 2 orang ini.

Aku pun mengeluarkan kotak bekalku dan hendak memakannya. Tapi gerombolan yeoja yang tadi pagi kembali muncul membuat suasana kembali ramai. Aku tidak suka makan di tempat yang bising seperti ini. Aku langsung menutup kembali bekalku dan berjalan menuju atap sekolah.

”Haah akhirnya tenang juga.” kataku sambil membuka bekalku. Angin musim semi berhembus hangat menerpa wajahku. Langit biru dengan awan putih berada tinggi di langit. Tidak buruk juga menyantap makan dengan suasana seperti ini.

Setelah selesai menghabiskan bekalku dan membereskannya, aku lalu berdiri menatap kejauhan di depan pagar pembatas. Hamparan pohon sakura terlihat seluruhnya dari sini. Byeol wangja benar. Mengamati suasana dari tempat tinggi itu paling menyenangkan.

Aku mengeluarkan strap handphoneku yang tedapat bandul pemberian byeol wangja. Kapan aku bisa bertemu dengannya. Meskipun kami hanya bertemu dalam waktu singkat tapi senyumannya sangat membekas di ingatanku.

Tiba – tiba angin bertiup keras. ”Akh!” seruku saat melihat bandul itu jatuh ke depan pagar pembatas dan tersangkut di paku yang mencuat dari depan pagar pembatas. ”Gawat! Aku harus segera mengambilnya sebelum ada angin yang  menerbangkannya.” batinku sambil memanjat pagar pembatas.

Tapi tiba – tiba ada seseorang yang menarikku. Aku pun jatuh kebelakang menimpa orang itu. ”Appo.. Hya! Kamu jangan bunuh diri. Masih banyak hal indah di dunia ini.” kata orang itu. Aku yang masih kaget hanya bisa mengerjap – kerjapkan mata. Aku baru sadar sekarang aku ada di dada orang ini. Aku langsung berdiri dan melihat ternyata orang itu Kris.

”Hya! Siapa juga yang bunuh diri! Aku cuma mau mengambil barangku yang tersangkut di sana.” kataku kesal sambil menunjuk ke arah bandulku yang masih tersangkut. ”Bukan bunuh diri? Aku pikir kamu mau bunuh diri. Habis dari tadi di kelas diam saja.” katanya sambil menggaruk kepalanya. ”Memang kalau tidak ada yang dibicarakan aku harus bicara!  Apa kamu pikir orang yang diam terus itu orang yang depresi hingga mau bunuh diri! Aneh – aneh saja.” kataku marah – marah. ”Mianhae.” gumamnya. ”Sudahlah sekarang bantu aku mengambilnya.” kataku sambil berjalan kembali ke pagar.

Aku kembali berusaha memanjat. Tapi Kris malah mengangkatku dan menurunkan dari pagar pembatas. ”Biar aku saja.” katanya sambil memanjat pagar pembatas. Dengan mudah dia meraih bandulku dan memberikannya kepadaku. ”Ini jangan sampai hilang lagi. ” katanya. ”Gomawo. Syukurlah. Aku pikir aku sudah tidak bisa mendapatkannya.” kataku sambil menggengam erat – erat bandul itu. Aku baru menyadari dia masih menatapku.

”Wae?” tanyaku. ”Aniyo, hanya bingung saja kenapa kamu begitu menjaga bandul itu.” katanya dengan wajah bingung. Aku berpikir sejenak. Tidak ada salahnya memberitahunya tentang byeol wangja. Mungkin saja dia tahu tentang byeol wangja.

”Ini pemberian dari seorang namja yang aku temui saat aku umur 5 tahun. Waktu itu dia menemaniku bermain. Meskipun hanya sebentar tapi aku sangat menyukainya. Aku selalu ingat akan senyumannya. Karena itu aku ingin menemuinya sekali lagi. Aku baru ingat dan tahu bahwa pakaian yang dia pakai waktu itu adalah seragam TK sekolah ini. Karena itu aku masuk ke SMA ini, berharap bisa bertemu dengannya. Kan biasanya kalau TK di sini berarti SD, SMP, SMA di sini juga.” jelasku.

“Dan sampai sekarang kamu masih belum menemukannya?” tanyanya. ”Ne. Tahun lalu aku sudah mencarinya tapi tidak mendapat petunjuk apa pun. Aku akan selalu mencarinya karena aku sudah berjanji dia akan menjadi satu – satunya namjachinguku. Dan satu – stunya pentunjuk adalah bandul ini, karena dia punya bandul yang sama persis dengan ini.” kataku sambil memainkan bandul itu.

Tiba – tiba sebuah ide melintas di benakku. “Kris kamu mau bantu aku? Kamu kan wakil ketua OSIS, pasti kamu lebih banyak mengenal orang daripada aku.” kataku. ”Shireo. Itu urusanmu, bukan urusanku.” katanya. ”Ayolah. Jebal…” rengekku. Dia tampak berpikir sejenak. ”Baiklah, aku akan membantumu. Sepertinya seru juga. Tapi ada syaratnya. Kamu harus menjadi pembantuku.” katanya sambil mengeluarkan evil smirknya.

”Hah?! Pembantumu?! Untuk apa?!” kataku. ”Kamu jadi seperti asisten untukku. Kan kamu tidak mungkin aku jadikan anggota OSIS. Dengan begitu kamu bisa tahu banyak juga. Tapi kamu harus menuruti apa pun yang kuperintahkan. Begitu kamu membantah, aku langsung membatalkan perjanjian ini. Karena kamu yang meminta tolong, aku anggap kamu sudah setuju. Sudah ya aku harus kembali ke kelas. Annyeong.” katanya sambil pergi begitu saja meninggalkanku ternganga di atap sendirian.

Apa –apaan namja itu! Kalau tidak mau membantu bilang saja. Tapi memang sih akan lebih mudah mencari kalau punya kenalan seperti dia. Baiklah, apa pun akan kulakukan demi bertemu dengan byeol wangja.

****

          Aku berjalan memasuki kelas yang masih saja ramai dengan gerombolan yeoja. ”Nah itu dia. Kamu sini, aku ada pekerjaan pertama untukmu.” seru Kris dari mejanya. ”Kalau tidak salah namu Se Na kan? Sekarang tolong catatkan aku catatan pelajaran Kang seongsenim tadi.” katanya. ”Ani, itu kan salahmu sendiri tadi tidur.” kataku sambil duduk di mejaku. ”Perjanjian byeol wangja akan batal.” katanya sambil tetap bermain kartu dengan temannya.

Namja sialan. ”Ne ne aku akan menyalinkannya.” kataku sebal. ”Perjanjian byeol wangja? Apa itu?” tanya Joon Myun penasaran. ”Itu.. hmm hmm… lepahin.” katanya tidak jelas karena aku langsung menutup mulutnya. Gerombolan yeoja tadi langsung berteriak histeris. ”Tidak ada apa kok.” kataku sambil tersenyum ke arah Joon Myun dengan pandangan ’jangan-tanya-tanya-lagi’. ”Kamu jangan beritahu ke teman – temanmu. Ara?” bisikku. Dia hanya mengangguk. Aku pun melepaskan tanganku. ”Haduh nafasku nyaris saja berhenti. Memang tenagamu tenaga sapi apa?” katanya sambil masih tersengal – sengal. ”Aku kan ikut taekwondo. Sekarang sudah sabuk hitam. Hahaha.” kataku dengan riang karena melihatnya ternganga.

”Wah hebat sudah sabuk hitam. Aku jarang melihat seorang yeoja ikut taekwondo.” kata Joon Myun sambil tersenyum ke arahku. Entah kenapa aku merasa wajahku menjadi hangat. Aish apa yang kamu pikirkan Se Na. Kamu sudah memiliki byeol wangja.

 

****

          Neraka. Itulah gambaranku tentang kehidupanku satu minggu ini. Bangun pagi aku sudah mendapat telepon dari Kris. ”Sebelum sekolah belikan aku roti kopi yang ada di toko kue dekat sungai Han.” katanya. ”Itu kan jauh dari sekolah? Aku tidak mau.” kataku tegas. ”Perjanjian byeol wangja..” ”Baiklah aku belikan.” kataku pasrah.

Aku harus berangkat pagi – pagi untuk membelikannya roti itu dan berlarian menuju sekolah. ”Ini.. roti.. kopinya.” kataku pada Kris sambil tersengal – sengal saat aku sudah sampai di kelas. Hampir saja aku telat karena harus membelikannya roti. ”Bagus. Lain kali lebih cepat lagi. Kalau begini kan aku jadi tidak bisa memakannya. Sudah bel.” katanya dengan cuek dan mengambil roti itu begitu saja. Aku hanya bisa menatapnya kesal.

Tiba – tiba sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. ”Ini untukmu.” kata Joon Myun sambil memberikan juice kaleng dingin kepadaku. ”Gomawo.” gumamku. Berbeda dengan Kris yang kurang ajar itu, Joon Myun jauh lebih baik. Pantas saja panggilannya Su Ho.

”Se Na, pelajaran pertama apa?” tanya Kris. ”Bahasa 2 jam.” jawabku. ”Terus?” ”Matematika 2 jam.” ”Kalau begitu aku tidur dulu. Nanti kalau pelajran matematika saja baru bangunkan aku.” katanya sambil menepuk – nepuk tasnya dan tidur.

”Memang tidak apa – apa ya?” batinku. Sepertinya Joon Myun melihat wajah cemasku. ”Tenang saja. Appanya penyumbang besar di sini. Jadi dia bisa bebas. Lagi pula sebenarnya dia tidak perlu masuk SMA juga. Kan dia mendapat banyak tawaran untuk masuk universitas tanpa harus masuk SMA dulu. Lebih baik kamu mendengarkan pelajaran dengan baik saja dari pada mengkhawatirkannya.” katanya sambil menepuk pelan kepalaku. ”Aduh, aku lupa bawa bekal. Gara – gara tadi pagi keburu membelikan Kris roti.” gumamku setelah melihat aku lupa bawa bekal.

Tiba – tiba Kris mengangkat kepalanya. ”Oh ya nanti kamu istirahat belikan aku nasi kare 2 di kantin lalu segera ke atap. Aku malas makan di kantin. Awas kalau tidak dapat.” katanya dan kembali tidur. ”Aaakkh harusnya aku tidak perlu khawatir dengan orang seperti ini.” seruku kesal sambil menendang kursi Kris.

 

****

          Setelah berlarian ke kantin, berjuang mendaptkan nasi kare lalu kembali berlarian ke atap, akhirnya aku melihat Kris sedang duduk di pagar pembatas. ”Lama sekali.” katanya sambil turun dari pagar pembatas. ”Nah mari makan. Kamu makan yang satunya lagi.” katanya sambil menyerahkan salah satu kotak makan ke arahku. ”Aku tidak mau pembantuku jatuh sakit karena kelaparan.” katanya saat melihatku hanya diam menatap kotak makan.

”Aahh kenyang.. Berapa lama lagi waktu istirahatnya?” tanyanya padaku setelah kami selesai makan. ”Sekitar 10 menit lagi.” kataku sambil melihat jam tanganku. Tiba – tiba dia merebahkan kepalanya di pangkuanku. ”Hya! Mau apa kamu?!” seruku karena terkejut. ”Sekarang kamu jadi bantalku. Aku mau tidur.” katanya cuek lalu tertidur begitu saja.

Suasana hening membuat aku menjadi salah tingkah sendiri. Hanya ada suara angin yang berhembus saja. Kenapa bel istirahat selesai tidak berbunyi – bunyi juga? batinku. Kenapa jantungku menjadi tidak karuan seperti ini?

Akhirnya setelah 10 menit yang panjang, bel istirahat berakhir berbunyi juga. ”Kris, sudah bel.” kataku sambil membangunkannya. Dia hanya berdiri begitu saja sambil berjalan pergi. ”Oh ya besok aku mau memeriksa barang bawaan para murid. Kamu besok ikut aku memeriksa. Mungkin kamu bisa menemukan byeol wangjamu.” katanya.

 

****

          Aku tidak bisa tidur semalaman karena terlalu senang. Besok mungkin aku bisa menemukan byeol wangja. Aku berangkat pagi – pagi agar bisa memerikasa lebih banyak tas para murid.

”Kris!! Annyeong!!” seruku kepada Kris saat aku sampai di ruang OSIS. ”Baguslah. Aku pikir kamu akan datang telat lagi hari ini.” katanya sambil membereskan kertas – kertas yang ada di mejanya. ”Demi byeol wagja, apa pun akan kulakukan.” kataku semanagat.

Dia hanya menatapku lalu menghela napas. ”Ka..” katanya sambil beranjak dari mejanya. ”Tapi aku kan ada kamu. Karena itu aku tidak takut.” selaku sambil tersenyum kepadanya. ”Pabo, kamu itu pembantuku. Jadi kamu harus selalu ada di dekatku. Kajja, kita ke pintu gerbang.” gerutunya sambil memukul pelan kepalaku dengan buku. Aku melihat kupingnya menjadi merah. Hehee, ternyata dia bisa malu juga.

 

****

          Ternyata hingga siswa terakhir yang masuk ke sekolah, tidak ada yang memiliki bandul seperti milikku. Aku sebenarnya sudah sering seperti ini, tapi masih ada juga rasa kecewa. ”Sudahlah mungkin lain kali kamu akan menemukannya.” kata Kris. Aku hanya mengangguk.

”Nanti pulang sekolah, ikut aku ke ruang OSIS. Ada berkas yang harus kamu bereskan.” katanya sambil berjalan pergi. Dasar, tidak tahu perasaan. Baru saja aku kecewa, malah diberi pekerjaan. ”Aku mau makan di kantin dulu sebelum masuk. Kamu temani aku makan. Aku traktir kamu.” katanya sambil menarik pergelangan tanganku. Aku hanya tersenyum.

Sebenarnya Kris itu orang baik. Hanya saja cara dia menunjukkan perhatiannya sedikit aneh. ”Aah kalian sudah selesai? Mau kemana?” tanya Joon Myun saat kami bertemu dengannya di koridor menuju kantin. ”Ke kantin. Kamu mau ikut?” ajakku. ”Baiklah. Lagi pula pelajaran pertama jam kosong.” katanya

”Hei, kalian tahu berita yang sekarang sedang beredar?” kata Joon Myun. ”Apa?” tanyaku dan Kris bersamaan. ”Kalian berdua jadian.” katanya sambil terkekeh. ”Ani!! Siapa juga yang mau dengan orang seperti dia.” kataku dan Kris bersamaan sambil menunjuk satu sama lain. ”Oh begitu. Berarti aku masih punya kesempatan.” katanya sambil tersenyum. Apa maksudnya? batinku bingung.

 

****

          ”Kamu bereskan berkas daftar siswa yang ada di situ. Mungkin kamu bisa menemukan murid yang mirip dengan byeol wangja.” kata Kris sambil menunjuk sebuah lemari penuh folder tebal. Aku mulai mengambil sebuah folder dan mencoba mengamati foto siswa yang ada di situ satu persatu.

Menit demi menit berlalu. Aku melihat jam dinidng. Jam setengah 6? Berarti sudah 2 jam aku mencari, tapi tidak menemukannya juga. Mungkin karena ingatanku tentang wajah byeol wangja sedikit kabur, jadi aku tidak bisa menemukannya. ”Kris, aku capek. Boleh..” kataku sambil menoleh ke arah Kris. Tapi Kris sudah tertidur di mejanya. Iya juga ya. Dia pasti lelah menemaniku.

Aku mendekatakan wajahku untuk mengamati wajahnya yang sedang tertidur. Ketika tidur wajahnya sangat lucu, tidak terpikir bahwa terkadang dia bisa menjadi menyebalkan. Tiba – tiba dia membuka matanya. ”Huwa!!” seruku terkejut dan aku langsung menjauhkan diri.

”Ada apa?” tanyanya sambil mengusap – usap matanya. ”Ani.” jawabku. Semoga dia tidak melihat wajahku yang memerah. ”Sudah ketemu?” tanyanya sambil merenggangkan badan. ”Belum. Tapi aku masih baru memeriksa separuh. Besok aku lanjutkan.” kataku.

”Aku sebenarnya bingung untuk apa kamu mencari byeol wangja. Namja seperti itu lupakan saja. Mungkin sekarang dia malah tidak ingat sama sekali tentangmu.” katanya. Hatiku serasa ditusuk. Air mata mengalir pelan melalui pipiku. ”Meskipun dia lupa tentangku. Aku akan tetap mencarinya dan membuatnya ingat.” isakku. ”Se Na..” katanya terkejut karena aku menangis. Aku langsung berlari keluar begitu saja. Kenapa dia tega berkata seperti itu? Aku tahu kemungkinan besar byeol wangja akan lupa tentang aku, tapi aku berusaha tidak memedulikan kemungkinan itu. Tapi Kris malah berkata seperti itu.

Aku terus berlari sepanjang koridor. Air mataku tidak dapat berhenti mengalir. Tiba – tiba aku menabrak seseorang. ”Mian..” kataku. ”Se Na? Ada apa? Kenapa kamu menangis?” tanya orang itu. Aku menengadahkan kepalaku dan aku melihat Joon Myun. Entah kenapa melihatnya membuat tangisanku semakin keras. ”Lho Se Na kenapa?” tanyanya kebingungan.

 

****

Kris POV

Apa perkataanku tadi keterlaluan? Tapi aku benar – benar bingung untuk apa mencari namja seperti itu. Kalau mencari orang yang memiliki bandul seperti itu, aku pun juga punya, batinku sambil mengeluarkan bandul berbentuk bintang yang mirip dengan bandul Se Na dari kantungku.

 

****

Se Na POV

”Oh, ternyata ada cerita seperti itu.” kata Joon Myun setelah aku menceritakan semuanya. ”Aku yakin Kris tidak bermaksud membuat hatimu sakit. Mungkin cara dia bertanya agak sedkit keterlaluan, tapi dia sebenarnya orang yang baik.” kata Joon Myun sambil tersenyum kepadaku. Senyumannya membuat hatiku sedikit tenang.

” Neoui sesangeuro yeorin barameul tago..”. “Sebentar, ada telephone.” kata Joon Myun sambil mengeluarkan handphonenya. Aku terkejut melihat strap handphonenya. Sebuah bandul berbentuk bintang yang sama persis seperti milikku. “Ne, aku akan segera ke sana.” kata Joon Myun mengakhiri panggilannya. ”Mianhae Se Na, appaku tiba – tiba memanggilku. Kamu bisa pulang sendiri kan?” katanya. Aku ingin menanyakan tentang bandul itu, tapi dia terlihat terburu – buru. “Aku bisa pulang sendiri kok. Gomawo mau menemaniku.” kataku sambil tersenyum. “Lain kali aku akan membantumu mencari byeol wangjamu. Annyeong.” katanya sambil menepuk kepalaku lalu berlari ke arah parkiran.

Aku hanya bisa tercengang melihat Joon Myun yang semakin jauh dariku. Aku menemukan byeol wangja. Akhirnya setelah bertahun – tahun aku menemukan byeol wangja. Senang, semangat, dan sedikit kebingungan bercampur aduk di hatiku. Besok aku harus bertanya padanya tentang bandul itu. Tapi besok kan hari sabtu, berarti baru hari Senin aku bisa bertanyanya. Aish.. kenapa harus ada hari Sabtu dan Minggu sih, batinku kesal.

 

****

          ”Se Na bangun, ada namja yang mencarimu.” kata omma sambil membangunkanku. ”Siapa yang hari Minggu seperti ini datang?” batinku kesal. Akhirnya aku bangun dan segera mandi lalu berganti baju. Baru setelah itu aku keluar untuk melihat siapa orang itu. ”Kris?!” seruku kaget ketika tahu ternyata namja itu Kris.

”Annyeong, aku mau ke suatu tempat. Kamu temani aku.” katanya sambil menggeretku masuk ke mobilnya. ”Apaan sih? Aku tidak mau pergi!” seruku kesal sambil membuka pintu mobilnya. Tapi pintu itu tidak bisa membuka. Aku akhirnya hanya bisa kembali menghadap ke depan dengan kesal. ”Jangan lupa kamu masih pembantuku.” katanya sambil menyalakan mesin mobil.

 

****

          ”Kyeopta!!” seruku saat kami sampai di sebuah bukit yang hijau. Sejauh mata memandang hanya ada pepohonan hijau dan sebuah sungai biru yang meliuk – liuk. Angin musim panas yang hangat menerpaku. Matahari bersinar tinggi di langit.

”Mianhae.” kata Kris tiba – tiba membuatku menoleh ke arahnya. ”Kemarin bicaraku keterlaluan. Mianhae.” katanya sambil tertunduk. Jadi, dia membawaku ke sini untuk minta maaf? Aku hanya tersenyum. ”Baiklah, aku maafkan. Tapi jangan bicara seperti itu lagi.” kataku. ”Kamu belum sempat sarapan kan tadi pagi? Aku sudah bawa makanan kok. Aku ambilkan dulu di mobil.” katanya sambil berlari ke arah mobil. Aku melihat ada sesuatu yang terjatuh dari kantungnya, tapi sepertinya ia tidak sadar karena terus berlari. Aku berjalan dan memungutnya. Aku terkejut saat melihat benda itu. Sebuah bandul berbentuk bintang yang sangat mirip dengan milikku. Kenapa dia juga punya? Berarti siapa yang byeol wangja? Kris atau Joon Myun?

 

TBC

          Gimana gimana? seru g? atau ancur? Author sangat senang kalau banyak yang suka. Mohon ditunggu next chapnya ^^

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s