A Story About Angel and Devil

A story about angel and devil

Title            : A Story About Angel and Devil

Author        : Kim Na Na

Length        : One Shoot

Genre                   : Romance, angst, sad

Main Cast   : Xi Lu Han

Seo In Hyun (OC)

Oh Se Hun

Note            : Author Na Na is back. Akhirnya bisa juga nyelesaiin ff ini.  Baru bisa setelah selesai UAS. Maklum kelas 12. Author minta maaf buat readers yang nungguin ff author #itu kalo ada. Mungkin author nyelesaiin ff author yang satu lagi terus kembali hiatus karena mau nyiapin UNAS. Ok happy reading dan jangan lupa RCL-nya.

천사와 악마는 이야기

          Aku selalu bertanya apakah setiap orang memiliki kisah cinta yang indah? Apakah mereka dipertemukan tanpa halangan apa pun kemudia tiba – tiba saja saling jatuh cinta? Tapi sepertinya tidak dengan kisah cinta harabeojiku.

****

          “Akhh, dasar omma jahat. Aku kan ingin tidur kenapa malah disuruh membersihkan kamar Harabeoji? Harabeoji juga, harusnya dia minta agar barangnya ikut dikermasi bersama dia saja. Sekarang kan yang repot aku.” omelku sambil memasukkan buku – buku Harabeoji ke dalam sebuah kardus.

“Eung? Ini buku apa? Kenapa tidak ada judulnya?” kataku bingung sambil membalik – balik halamannya. Mataku menangkap sebuah nama di halaman paling depan buku itu. “Xi Lu Han. Bukankah itu nama Harabeoji? Jangan – jangan ini buku hariannya?” pikirku

Aku menjadi penasaran. Aku segera menyingkirkan tumpukan buku di kursi meja kerja Harabeoji dan duduk. Aku membuka halaman keduannya. Hanya ada tulisan “Apakah kalian tahu kisah Malaikat dan Iblis?” ”Kisah Malaikat dan Iblis? Bukannya itu cerita yang sering Harabeoji ceritakan ketika aku masih kecil?”

Malaikat dan Iblis adalah kisah tentang 2 orang malaikat yang selalu membantu Sang Manusia. Tapi suatu hari, salah satu malikat tidak sengaja mendengar bahwa Sang Manusia akan mendapat Masalah dimana permasalahan itu membuatnya bertemu dengan Sang Kematian. Demi melindugi Sang Manusia, malikat itu memberi Sang Manusia Perlindungannya sehingga Sang Manusia tidak mendapat Masalah. Melihat itu Malaikat Agung marah dan mengutus malaikat yang seorang lagi untuk membuat malaikat pembrontak itu menjadi Iblis karena telah melawan kehendak Tuhan. Malikat ini sebenarnya tidak ingin melihat temannya menjadi Iblis tapi dia harus mematuhi perintah Surga. Akhirnya ia pun mengubah temannya menjadi Iblis dan mengusirnya dari Surga. Sang Iblis tidak masalah dengan semua itu asal dia masih dapat bersama dengan Sang Manusia. Tapi sayangnya, Sang Manusia menjadi takut dengan sosoknya yang baru dan selalu menghindarinya. Sejak saat itulah di dunia ini ada Malaikat, Manusia, dan Iblis yang selalu dijauhi oleh Manusia karena takut akan sosoknya tanpa mengetahui alasan di balik itu .

”Tapi itukan hanya dongeng yang Harabeoji ciptakan sendiri. Apa hubungannya. Dasar Harabeoji aneh.” omelku  sambil membuka halaman selanjutnya.

3 Juli 1965

          Hari ini keluargaku pindah ke daerah yang baru karena alasan kesehatan omma. Lingkungan baru membuatku dan Se Hun tertarik untuk menjelajahinya. Dan kami bertemu dengannya. Seorang gadis kecil yang tinggal di panti asuhan sebelah rumah kami. Dia dua tahun lebih mudah dari kami tetapi maslah yang ia hadapi lebih berat dari kami. Orang tuanya meninggal saat ia masih bayi. Melihatnya, membuat kami berjanji akan selalu melindunginya. Sampai kapan pun. Nama gadis kecil itu adalah Seo In Hyun.

 

”Se Hun? Bukankah itu nama saudara kembar Harabeoji yang sudah lama meninggal? Tapi bukannya dia tidak disukai oleh keluarga besar kami. Aku saja hanya melihatnya dari foto. Dan Seo In Hyun adalah nama nenek sebelum menikah dengan kakek. Berarti ini adalah kisah masa lalu tentang mereka. Sepertinya menarik.” kataku dan membaca halaman selanjutnya.

12 Agustus 1970

          Hari ini baru aku sadari ternyata perasaanku terhadap In Hyun berubah. Bukan lagi kakak adik, tapi yeoja dan namja. Selalu mampu membuatku tersenyum dan bahagia. Dia bagaikan musim semi yang membuat hatiku terasa hangat. In Hyun, apakah kamu tahu perasaanku ini? Saranghaeyo

 

”Waah… Ternyata Harabeoji sudah menyukai Halbeonim sejak lama. Pantas saja mereka selalu terlihat mesra. Bahkan tidak sampai setahun setelah Halbeonim meninggal, Harabeoji menyusulnya.”

25 September 1970

          Se Hun datang kepadaku dan berkata ”Hyung sepertinya aku menyukai In Hyun.” Sebuah perkataan yang langsung menghancurkan hatiku. Aku sangat mencintai In Hyun tapi aku juga sangat menyayangi Se Hun. Dia sudah merupakan bagian hidupku yang sangat penting. Bahkan lebih berharga di bandingkan nyawaku sendiri.  Lu Han adalah Se Hun dan Se Hun adalah  Lu Han, itulah kalimat yang selalu kami  ucapkan. Tapi kenapa sekarang kami malah menyukai orang yang sama?Apa aku harus merelakan In Hyun untukmu, Se Hun?

 

”Mwo, mereka menyukai orang yang sama? Tapi kenapa akhirnya Halbeonim memilih Harabeoji?” kataku sambil mebalik halaman dengan tidak sabar.

23 Januari 1971

          Aku melakukan sebuah dosa yang pasti sangat menyakitkan Se Hun. Jika saja Se Hun tahu yang sebenarnya, ia pasti membenciku.  Hari ini In Hyun datang kepadaku dan menyerahkan sebuah surat. Ketika aku bertanya tentang surat itu, dia hanya tersenyum dengan pipi memerah dan meminta tolong agar di sampaikan kepada Se Hun. Aku tahu surat ini pastilah love letter untuk Se Hun.

          Sesampainya di rumah Se Hun bertanya padaku ”Hyung tadi di sekolah hyung menerima love letter dari In Hyun ya? Aku tadi melihatnya.” Aku terkejut. ”Hyung, hyung terima saja In Hyun. Hyung juga menyukainya kan? Aku tahu dari sikap hyung. Jika memang In Hyun lebih memilih hyung dari pada aku, aku tidak apa. Jaga dia ya hyung.” katanya sambil tersenyum padaku.

          Berbagai pikiran berkecamuk di pikiranku. Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya? ”Se Hun apa kamu benar merelakan In Hyun untukku?” ”Asal dia bahagia aku juga bahagia. Lagi pula aku yakin hyung mampu membuatnya bahagia. Kalian berdua adalah orang yang paling kusayangi di dunia ini. Melihat kalian berdua bahagia adalah kebahagianku. Aku tidak menyesal.”

          Se Hun, mianhae. Aku tidaklah layak bahagia. Aku hanya mementingkan diriku sendiri. Aku bukanlah orang yang layak menerima kebahagian ini. Mianhae.

 

Ternyata ada cerita seperti ini dibalik kisah mereka. Aku pikir cerita mereka bahagia seperti yang selalu dibicarakan banyak orang. Aku membaca halaman selanjutnya.

24 Januari 1971

          “Se Hun hanya menganggapmu sebagai adiknya. Tapi ia tidak ingin hubunganmu dengannya menjadi canggung setelah kejadian ini. Dia benar- benar meminta maaf padamu.” kataku di hadapan In Hyun yang air matanya mengalir.

          ”Apakah aku bisa menggantikan Se Hun? Aku tahu kamu masih menyukai Se Hun, tapi maukah kamu membuka hatimu bagiku? Aku akan menunggumu melupakan Se Hun.” In Hyun memandangku dengan terkejut lalu mengangguk.

          Meskipun saat itu hatiku bahagia tapi ada sesuatu yang mengganjal. Aku telah melakukan kebohongan lagi. Aku hanya ingin berada di sampingmu. Akan kulakukan apa pun agar aku bisa selalu bersamamu. Apakah itu sebuah dosa?

 

”Kenapa semakin kubaca, Harabeoji semakin telihat kejam? Padahal setahuku Harabeoji salalu dipanggil ”Chonsa” karena sikapnya yang bagaikan malaikat. Tapi aku baru tahu bahwa Harabeoji memiliki sisi seperti ini.”

20 Maret 1971

          Hari ini adalah first dateku dengan In Hyun. Aku pikir ini adalah hari yang paling membahagiakan, tapi kebahagiaan itu tidak ada bagi Se Hun.

          Saat aku siap – siap pergi menjemput In Hyun, aku bertemu dengan Se Hun di halaman dan ia melihatku sedang mecium bunga yang akan kuberikan untuk In Hyun. ”Hari ini first date hyung dengan In Hyun?” tanyanya. Aku hanya bisa tersenyum sambil mengangguk. ”Wah kapan hyung beli bunganya? Jangan – jangan setelah ini Kim ajumma akan marah – marah karena bunganya diambil. Hehehe. Hyung ayo pergi. Jangan buat In Hyun menunggu.”katanya sambil mendorong pelan punggungku. Aku melihat ke arahnya. Dia tersenyum tapi matanya terlihat sedih.

          Se Hun, jika hari itu aku menyerahkan love letter In Hyun padamu, apa aku akan memiliki pandangan yang sama dengan pandangan yang kamu miliki sekarang? Kesedihan dan kebahagian tergambar jelas di matamu. Tapi aku tidak memilki kekuatan sepertimu untuk tetap tersenyum meski aku tahu hatimu pasti sakit. Karena itu aku melakukan semua ini. Se Hun mianhae

15 April 1971

          Aku dan Se Hun masuk ke perguruan tinggi. In Hyun sekarang tinggal di rumah pamannya yang baru saja pulang dari Amerika. Pamannya baru tahu jika kakaknya meninggal dan sekarang keponakannya menjadi yatim piatu. Pamannya terlihat baik dan perhatian pada In Hyun. Seharusnya semua akan berjalan baik – baik saja, tapi entah kenapa perasaanku mengatakan sesuatu yang buruk terjadi. Semoga itu hanyalah perasaanku saja. In Hyun sekarang kamu telah memiliki keluarga. Apa sekarang kamu lebih bahagia?

 

”Paman? Tapi kenapa Halbeonim tidak pernah bercerita jika dia punya seorang paman? Setahuku Halbeonim adalah yatim piatu.”

8 Juli 1971

          Hari in In Hyun mengeluhkan sikap pamannya kepadaku dan Se Hun. Ia mengatakan tidak terlalu suka dengan sikap ramah pamannya. Begitulah In Hyun, ketika ia tidak suka, dia akan segera mengatakannya. Aku hanya tertawa dan berkata mungkin dia belum terbiasa saja.

          Tapi Se Hun berkata, dia juga tidak terlalu menyukai paman In Hyun. Aku hanya bisa berkata ”Mungkin kita belum terbiasa dengan status baru In Hyun.”

 

10 Oktober 1971

          Andai saja aku mendengarkan perkataan In Hyun dan Se Hun saat itu, hal ini pasti tidak akan terjadi. Sore ini In Hyun datang ke rumah sambil menangis. Di belakangnya Se Hun tampak sangat marah hingga pucat. Ketika kutanya ada apa, Se Hun menjawab In Hyun hampir saja direnggut kehormatannya oleh pamannya. Untung saja Se Hun datang ke rumah In Hyun dan berhasil menyelamatkan In Hyun.

          Aku langsung memeluk tubuh mungil In Hyun. In Hyun, mianhae. Aku tidak mampu melindungimu. Tapi aku berjanji, aku pasti akan membalaskan perlakuan yang diterima In Hyun hari ini.

 

12 Oktober 1971

          ”Aku telah menghabisinya.” kataku pada Se Hun. ”Maksud hyung?” ”Orang itu terjatuh dari tangga rumahnya karena menghindariku. Aku tidak tahu dia tewas atau tidak. Tapi yang penting urusanku dengannya sudah selesai. Aku tidak takut jika polisi mencariku.”

          Se Hun menatapku sesaat lalu berkata ”Hyung mencintai In Hyun kan?” ”Tentu saja.” ”Hyung akan selalu menjaga In Hyun selamanya kan?” ”Aku akan melakukan segalanya untuk melindunginya. Bahkan jika harus merelakan nyawaku.” ”Hyung, aku pasti tidak akan membiarkanmu berpisah dengan In Hyun.” kata Se Hun lalu keluar dari kamar begitu saja. Aku tidak mengerti maksud perkataan Se Hun. Tapi aku sudah puas bisa membalaskan dendam In Hyun.

          In Hyun, aku tahu kamu pasti akan membenciku jika kamu tahu aku sudah melukai seseorang karena kamu paling benci dengan seseorang yang menyakiti orang lain. Tapi asal aku mampu membalaskan dendammu, aku tidak masalh kamu benci.

          Sepertinya aku memang tidak berjodoh denganmu. Meskipun aku telah berbohong dan melukai hati Se Hun untuk mendapatkanmu, tapi ternyata aku masih tetap tidak bisa bersamamu. Semoga kamu bisa berbahagia dengan Se Hun.

 

16 Oktober 1971

          Sekarang aku baru mengerti arti perkataan Se Hun waktu itu. Tapi semuanya terlambat. Tidak ada yang bisa kuperbuat sekarang.

          Hari ini polisi datang ke rumah kami. Aku sudah siap jika memang polisi akan menagkapku. Tapi ternyata polisi malah menagkap Se Hun. Aku terkejut tapi memang semua bukti merujuk pada Se Hun.

          Se Hun telah menjatuhkan dompetnya di rumah paman In Hyun sehingga ia terbukti sebagai pelakunya. Aku tahu itu pasti Se Hun sengaja lakukan agar semua mengarah padanya. Ketika aku bertanya kenapa ia melakukan ini dia menjawab ”Hyung aku kan sudah katakan aku pasti tidak akan membiarkanmu berpisah dengan In Hyun. Hyung aku pasti akan selalu mendoakan kebahagianmu dengan In Hyun. Aku yakin kalian akan selalu bersama dan tidak akan terpisahkan.”

          Aku hanya bisa terpaku di tempatku. Hatiku lebih sakit lagi ketika melihat tatapan jijik sekaligus ketakutan In Hyun terhadap Se Hun. In Hyun, bukan Se Hun yang harus kamu tatap seperti itu tapi aku. Akulah yang melakukan semua ini tetapi kenapa malah Se Hun yang harus menanggungnya?

          Aku tidaklah seperti malaikat yang melindungi Sang Manusia dan berani menanggung hukumannya. Aku malah membuat Se Hun yang menanggung semuannya. Jujur aku takut jika In Hyun melihatku seperti saat ia melihat Se Hun. Aku tidak berani untuk dibenci In Hyun.

          Se Hun, mianhae aku tidak bisa berbuat apa pun untukmu. Aku benar – benar kakak yang buruk bagimu. Membohongimu, melukaimu, bahkan membuatmu dibenci oleh orang yang kamu cintai. Aku memang seorang ’iblis’ tetapi aku takut mengakui bahwa aku ’iblis’ dan malah membuatmu yang ’malaikat’ itu menjadi seorang ’iblis’ untuk melindungiku. Yang bisa kukatakan sekarang hanyalah mianhae, yang meski kukatakan beribu kali pun tidak akan sanggup menebus semua kesalahanku padamu.

 

Setelah halaman itu, semuanya haya halaman kosong. Ternyata itu alasannya keluarga besar kami selalu membenci Se Hun Harabeoji. Padahal mereka tidak tahu kisah dibalik itu. Dan Lu Han Harabeoji selalu bercerita tentang Malaikat dan Iblis sebagai pengingat bagi dirinya sendiri agar ia tahu siapa malaikat dan iblis yang sebenarnya.

Aku tidak bisa membenci Lu Han Harabeoji. Ia melakukan itu semua karena ia sangat mencintai halbeonim. Kesalahannya mungkin hanyalah mengapa ia jatuh cinta pada halbeonim dan tidak bisa menahan perasaannya.

Aku terus membalik – balik halaman buku itu hingga sampai halaman terakhir.

14 April 2010

          Aku membaca semua hal yang telah kulakukan di dalam hidupku ini. Dan yang ada hanyalah aku melukai hati semua orang yang kusayangi. In Hyun, Se Hun dan juga orang tuaku. Hingga hari ini aku selalu merasa bersalah dengan Se Hun dan In Hyun.

          Aku selalu bertanya, andai saja aku menyerahkan love letter In Hyun kepada Se Hun, apakah semua ini tidak akan terjadi? Apakah Se Hun mampu melindungi In Hyun dengan cara yang lebih baik dari pada yang aku perbuat? Mungkin hatiku akan sakit karena aku tidak mampu bersama In Hyun, tetapi aku mampu melihat dua orang yang paling kusayangi tersenyun dan bahagia. Aku dulu terlalu bodoh untuk menyadari bahwa melihat orang yang kita sayangi bahagia adalah suatu kebahagian tersendiri.

          Sekarang In Hyun dan Se Hun telah pergi dari dunia ini. Meninggalkanku sendiri menanggung semuanya. Aku sudah lelah dengan semua rasa bersalah yang selalu menghantuiku. Yang ingin aku lakukan sekarang adalah beristirahat sambil membawa semua kisah ini. In Hyun, Se Hun aku ingin kita kembali di saat kita masih kecil dan berlarian di padang rumput yang luas tanpa mengenal arti cinta sebenarnya. Hanya mengerti bahwa kami harus menjaga In Hyun dan membuatnya tersenyum tiap hari. In Hyun, Se Hun apa kalian masih mau menerimaku di sana dan bersama – sama denganku lagi?

 

14 April 2010? Itu adalah hari dimana Lu Han Harabeoji meninggal. Ternyata sampai ia akan meninggal pun ia masih selau di bayangi dengan perasaan bersalah. Aku menyandarkan punggungku di kursi kerja Harabeoji dan menutup mata dengan sebelah tanganku, berusaha menahan air mata yang siap jatuh kapan saja.

Tanpa sadar aku menjatuhkan sebuah surat yang terselip di buku harian Harabeoji. Aku memungutnya dan membuka amplop yang tidak tersegel itu. Amplop itu berisi dua buah surat yang terlipat. Aku membuka salah satu surat itu dan membacanya.

Nae Saranga In Hyun

 

Aku berterima kasih karena kamu telah membuat hari- hariku selalu indah. Meskipun ada banyak dosa yang kusembunyikan darimu tapi kamu selalu mampu membuatku bahagia. Bahkan sebelum kamu meninggal pun kamu masih memintaku agar selalu bahagia. Mungkin jika kamu masih dapat membaca surat ini kamu akan sanga membenciku.

 

Kamu tahu, aku sangat mencintaimu dan bahkan karena cintaku itu aku menjadi seorang “iblis”. Aku telah melakukan banyak dosa agar bisa selalu bersamamu.

 

Aku membohongimu dan berkata bahwa Se Hun hanya menganggapmu adiknya. Tapi sebenarnya Se Hun juga mencintaimu, bahkan cintanya padamu melebihi cintaku padamu. Ia rela mengorbankan apa pun agar kamu selalu bahagia.

 

Bukan Se Hun yang melukai pamanmu, tapi itu aku. Se Hun berpikir bahwa cintamu adalah aku sehingga ia mengorbankan dirinya agar kamu dapat selalu bahagia bersama aku. Karena itu jika kamu bertemu Se Hun di sana, kamu jangan membencinya.

 

Meski di hidupku ini hanya ada kebohongan tapi cintaku padamu adalah satu – satunya hal yang tulus dari lubuk hatiku yang terdalam. Kamulah satu- satunya cintaku dan selamanya akan menjadi satu – satunya cintaku. Meski kamu tidak akan mencintaiku lagi tapi aku akan tetap mencintaimu.

 

Air mata mengalir pelan di pipiku tanpa bisa kutahan. Aku dapat merasakan betapa besar cinta yang Harabeoji pada Halbeonim. Ia sampai rela menjadikan dirinya ’Iblis’ agar dapat selalu bersama Halbeonim. Aku lalu membuka surat yang kedua.

Nae Dongseng-a, Se Hun

 

Mianhae. Hanya itu yang bisa kukatakan padamu. Aku telah melakukan banyak kesalahan padamu. Bahkan aku sendiri pun takut jika mengingat semua dosa yang aku perbuat padamu.

 

Mulai dari membohongimu tentang persaan In Hyun hingga membuat hidupmu menjadi sengsara. Aku tahu permintaan maafku tidaklah cukup

.

Se Hun, apakah kamu bertemu dengan In Hyun di sana? Aku ingin kalian dapat berbahagia di sana. Aku kembalikan In Hyun padamu. Aku telah merebutnya darimu  di dunia ini dan sekarang aku ingin kalian bahagia di sana karena kamulah yang sebenarnya dicintai oleh In Hyun sama sepertimu yang mencintainya,

 

Se Hun, jika ada kehidupan selanjutnya, aku ingin menjadi orang yang mampu menjagamu dan juga In Hyun. Di kehidupan ini kamu telah berkorban begitu banyak agar aku dapat bahagia bersama In Hyun, karena itu aku berharap agar di kehidupan berikutnya kamu dapat bersama dengan In Hyun dan selalu bahagia bersama dengannya.

         

Tanganku bergetar memegang surat kedua surat itu. Aku menghapus air mata yang mengalir di pipiku dan mengambil buku harian Harabeoji. Aku berjalan menuju ke parapian dan melepar kedua surat itu beserta buku harian Harabeoji kedalamnya. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mengabulkan permintaan Harabeoji untuk membawa semua kisah ini bersamanya.

Aku selalu bertanya bagaimana kisah cinta setiap orang dan sekarang aku tahu bahwa tidak selamanya kisah cinta seseorang itu indah bagaikan drama. Banyak hal di dunia ini yang tidak bisa berjalan indah seperti yang kita harapkan. Mungkin kisah Harabeoji adalah salah satunya, tapi aku yakin bahwa permintaan Harabeoji akan terkabul. Pasti sekarang di sana ia bahagia bersama dengan Halbeonim dan Se Hun Harabeoji. Dan aku harap keinginan Harabeoji jika ia terlahir kembali juga terkabul.

”Lu Han! Se Hun! Makan malam sudah siap, ayo cepat turun!” teriak umma dari bawah. ”Ne!” balasku. Harabeoji aku berharap agar aku memiliki kisah yang tidak sama sepertimu. Kisah yang aku buat sendiri aku yakin berakhir bahagia. Meski namaku dan nama saudara kembarku sama dengan nama Harabeoji dan saudaranya, tapi aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengan kesalahan yang dilakukan Harabeoji.

”Lu Han hyung, ayo cepat, nanti umma marah.” kata Se Hun dari arah pintu. Aku langsung berlari ke arahnya dan memeluk pundaknya. ”Mwoya?” katanya bingung. ”Ani. Se Hun, aku pasti akan selalu menjagamu.” kataku sambil menggeretnya menuruni tangga. Dia memandangku sejenak lalu berkata ”Micheosso.” sambil menghela napas. Se Hun aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia, yaksokake, kataku dalam hati sambil tersenyum.

CHOROP

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s