날 잊지 말아요 #2

Don't Forget Me

Title: 날 잊지 말아요 (Don’t Forget Me)

Author: Kim Na Na

Length: Two Shoot

Cast: Kris | Kim Joon Myun | Park Se Na

Genre: School life, romantic

Note: Bagian terakhir dari Don’t Forget Me. Semoga endingnya tidak mengecewakan. Ditunggu RCL nya ^^

날 잊지 말아요

(chapter 2)

            “Ini makanannya. Aku yang buat sendiri.” kata Kris sambil meletakan sebuah keranjang piknik. “Kris ini kamu dapat dari mana?” tanyaku sambil menunjukan strap handphone berbandul bintang yang tadi ia jatuhkan. Dia hanya menatapnya lalu menyibukkan diri dengan keranjang pikniknya. “Kapan lalu aku ada pesta. Sepertinya itu tempat kamu dulu bertemu byeol wangja. Hotel di bukit kota sebelah kan? Kalau hotel itu setiap ada pesta, ditengah pita yang mengikat bungkus kue pasti seperti itu. Kamu pasti dapat dari bungkus kue juga.” katanya sambil mengeluarkan makanan dari keranjang piknik.

Aku hanya menatap bandul itu. Berarti Kris bukan byeol wangja. Kalau begitu milik Joon Myun belum tentu didapatnya waktu pesta kantor appaku. Aku harus memastikannya Senin nanti.

Tiba – tiba di depanku sudah ada sebuah sandwich. Membuatku terkejut dan langsung menjauhkan kepalaku. ”Ayo makan. Ini aku sendiri yang buat.” kata Kris sambil memasukkan sandwich itu ke mulutku. ”Massisda.” kataku setelah selesai mengunyahnya. ”Jinjayo? Ini masakan pertamaku. Baguslah kalau enak. Aku memang pintar di segala hal.” katanya sambil memasukkan sepotong sushi ke mulutnya lalu tersenyum ke arahku.

Entah kenapa ada sedikit kekecewaan ketika mengetahui Kris bukanlah byeol wangja. Aku menggelengkan kepala kuat – kuat. Apa yang kamu pikirkan Se Na?

 

****

          “Lho Kris mana?” tanyaku pada Joon Myun. ”Dia tidak masuk. Aku tidak tahu kenapa.” kata Joon Myun sambil tetap menatap handphonenya. Aku langsung merasa bagai terbang ke langit tingkat 100. Kris tidak masuk? Berarti aku bisa bebas. Tidak ada yang menyuruh – nyuruh aku.

”Oh ya Se Na, kamu mau menemaniku sepulang sekolah nanti tidak? Aku mau mentraktirmu karena kemarin aku tidak bisa mengantarmu pulang.” katanya sambil tersenyum ke arahku. Bagus, ini bisa menjadi kesempatanku untuk bertanya kepadanya tentang bandul itu. ”Baiklah, lagi pula aku juga tidak ada les hari ini.” kataku. ”Hore.. Nanti sepulang sekolah ya.” katanya sambil tersenyum lebar.

Setiap kali melihat Joon Myun tersenyum ke arahku, wajahku pasti sukses menjadi hangat. Apa lagi sekarang kemungkinan besar dia adalah byeol wangja. Aku menjadi lebih sering salah tingkah jika berhadapan dengannya.

 

****

          ”Se Na.” kata seseorang membuyarkan lamunanku. ”Ada apa?” tanya Joon Myun. ”Ani. Ah Joon Myun, lihat beruang itu lucu ya.” kataku sambil menunjuk sebuah boneka beruang. Sekarang aku sedang berjalan – jalan di Myeong-dong bersama Joon Myun. Tapi aku masih kepikiran tentang Kris. Biasanya dia selalu menelepon atau paling tidak meng-smsku. Sekarang dia tidak menghubungiku sama sekali. Apa terjadi sesuatu pada Kris?

”Mau aku belikan?” tanya Joon Myun sambil tersenyum ke arahku. ”Ani, kelihatannya mahal.” jawabku tegas. ”Tidak apa – apa. Ayo masuk. Kamu pilih sendiri.” katanya sambil mendorongku masuk.

Saat kami sedang memilih boneka, tiba – tiba handphoneku bergetar. Saat aku melihat nama yang ada di layar aku langsung mengangkatnya. Akhirnya Kris telepon juga. ”Yeobseoyo?” ”Tolong.. ke rumahku…” kata Kris terputus – putus. Ada apa? Kenapa suaranya lemah sekali?

”Joon Myun, mianhae. Adikku masuk rumah sakit, aku harus ke sana. Annyeong, lain kali kita jalan – jalan lagi.” kataku sambil berlari keluar toko. Semoga tidak terjadi apa – apa dengan Kris, harapku dalam hati.

 

****

          ”Permisi! Ada orang?!!” seruku sambil mengetuk pintu. Aku sudah memencet bel berkali – kali tapi tidak di bukakan juga. ”Se Na…” kata Kris sambil membukakan pintu. Aku terkejut melihat wajahnya yang begitu pucat. ”Ada apa? Kamu demam!” seruku sambil meletakan tanganku di pipinya yang begitu panas. ”Orang tuaku sedang di luar negeri. Aku sendirian. Kamu bisa masakan aku bubur?” kata Kris setelah aku membawanya ke kamar tidurnya. ”Tentu saja. Tapi mana pembantumu?” ”Pergi membeli makanan tadi sore, tapi belum kembali – kembali. Awas saja, nanti aku pecat pembantu seperti itu.” katanya lalu tertidur.

Aku pun menuju ke dapur dan memasak bubur untuk Kris. ”Kris buburnya sudah jadi. Bisa makan sendiri?” kataku sambil memberikan mangkuk bubur kepadanya. ”Bisa.” katanya, tapi bahkan memegang sendok pun dia tidak bisa. Tangannya gemetaran. ”Sini aku suapin saja.” kataku sambil mengambil mangkuk darinya dan menyuapkan bubur. ”Enak?” tanyaku. Dia hanya mengangguk. ”Setelah selesai makan nanti, kamu minum obat lalu tidur. Kalau kamu masih sakit besok kamu tidak usah masuk sekolah saja.” kataku sambil tetap menyuapinya bubur. ”Kamu pasti senang kalau aku sakit. Tidak ada yang menyuruh – nyuruh kamu.” katanya sambil tersenyum. ”Tidak juga. Rasanya sepi kalau tidak ada kamu.” kataku jujur. Memang meskipun awalnya senang tapi ternyata sepi juga kalau tidak ada Kris.

 

****

Kris POV

”Tidak juga. Rasanya sepi kalau tidak ada kamu.” kata Se Na. Wajahku langsung bertambah merah. Bukan karena demamku, tapi karena  perkataanya. Apa maksudnya dia berkata seperti itu? Dasar, membuat kepalaku semakin pusing saja.

”Nah ini obatnya setelah itu kamu tidur.” kata Se Na sambil memberiku obat. Aku meminumnya lalu memberikan gelas kosong kepada Se Na. ”Aku membereskan ini dulu. Kamu tidur. Awas kalau aku naik kamu belum tidur.” kata Se Na sambil keluar dari kamarku.

Hehehe, enak juga ada Se Na. Sudah lama tidak ada yang merawatku seperti ini. Aku merasa lebih baik dari pada tadi. Apa karena obat atau karena Se Na? Aku juga tidak tahu. Tapi aku harus cepat tidur. Aku tidak mau mendengar omelan Se Na

Kemudian aku mendengar Se Na masuk kembali ke kamarku. “Baguslah Kris sudah tidur. Pembantunya juga sudah pulang. Sekarang aku bisa pulang.” katanya. Aku sedikit membuka mataku. Se Na berjalan mengambil tasnya yang dia letakan di mejaku. Saat dia melewati tempat tidurku, aku menggengam pergelangan tangannya.

”Lho kamu masih bangun?’ tanya Se Na terkejut. “Jangan pergi, temani aku saja.” kataku sambil tetap memejamkan mata. ”Tapi ini sudah malam. Aku belum ijin dengan mamaku. Lagi pula sudah ada pembantu.” katanya. ”Ayolah.. Jebal…” kataku sambil mengeluarkan puppy eyes-ku. Dia menatapku sesaat lalu berkata ”Baiklah, tapi aku telephone ommaku dulu.” katanya sambil kembali menaruh tasnya di mejaku. Aku hanya tersenyum melihatnya.

”Untung aku bilang aku menginap di rumah Min Ji dan ommaku percaya.” katanya setelah selesai menelepon ommanya. ”Kamu tidak mandi? Ukkh baunya sampai sini.” kataku sambil menutup hidungku. ”Aku sih sebenarnya mau mandi tapi ini kan di rumah namja, jadi..” katanya dengan wajah merah. Hahaha ternyata dia juga punya malu.

Aku lalu berdiri dan membuka lemari pakaianku. Aku mengambil handuk dan melemparkannya ke arah Se Na. ”Pakai saja punyaku. Ini sikat gigi baru untukmu. Mau aku pinjamkan bajuku juga?” tanyaku. ”Ani. Aku masih punya baju olahraga karena tadi Kim soengsenim tidak masuk jadi olahraganya tidak ada. Gomawo. Aku mandi dulu.” katanya sambil berlari keluar kamarku. Sayang, padahal aku lebih suka dia memakai bajuku.

 

****

Se Na POV

Aku menutup pintu kamar mandi dengan keras. Wajahku masih terasa panas. Ottokhe, aku harus mandi di tempat Kris biasa mandi? Apalagi aku memakai peralatan mandi yang sama. Aku menggelengkan kepalaku keras – keras. Tenang saja Se Na, dia hanya Kris, Kris yang meneyebalkan. Kamu tidak perlu menjadi seperti ini.

Aku lalu cepat – cepat mandi dan kembali ke kamar Kris. Saat aku masuk dia sudah menyiapkan kasur lipat dan bantal di bawah tempat tidurnya. Kris sendiri malah sudah tidur. Aku memegang keningnya. Panasnya sudah turun. Berapa kali aku melihat Kris tidur, aku selalu tertawa. Wajahnya saat tidur sangat lucu.

”Sampai kapan mau melihatku terus?” tanya Kris tiba – tiba. Aku terkejut. ”Ani. Hanya mau mengecek demammu.” kataku. Aku lalu langsung tidur dan membalikkan badanku membelakanginya. ”Se Na.” ”Ne?” ”Boleh aku menggengam tangamu?” tanya Kris membuatku terkejut. ”Untuk apa?” kataku bingung. ”Ayolah. Dulu kalau aku sakit, ommaku selalu menggengam tanganku hingga kau tertidur. Makanya karena sekarang tidak ada omma, kamu saja yang menggantikan. Jebal..” katanya dengan puppy eyes sambil mengulurkan tangannya. Aku pun mengulurkan tanganku dan menggengam tangannya.

”Hehehe, kita seperti anak SD saat camp musim panas.” kataku sambil tersenyum. ”Kamu dulu saat kecil seperti apa ya?” tanya Kris. Tapi sebelum aku menjawab aku sudah jatuh tertidur karena lelah.

 

****

Kris POV

”Kamu dulu saat kecil seperti apa ya?” tanyaku. Tapi Se Na tidak menjawab. Saat aku melihatnya, Se Na sudah tertidur di kasur lipat di bawah tempat tidurku dengan tangan masih menggengam tanganku. Entah kenapa melihat wajahnya yang sedang tertidur membuat hatiku merasa nyaman. Ini pertama kalinya aku melihat dia tertidur.

Sepertinya jika tiap aku tidur, Se Na ada di sampingku tidak buruk juga. Aku lalu turun dari tempat tidurku dan menggendong Se Na kemudian meletakannya di tempat tidurku.

Sebenarnya ini tidak adil. Saat tadi dia mengamati wajahku, aku merasa jantungku berdetak 1000 kali lebih cepat. Tapi sekarang dia bisa tidur senyenyak ini. Aku lalu mencium kening Se Na. ”Jalja chagiya. Annyeonghi jumuseyo. Hehehe.” kataku dalam hati lalu aku sendiri tidur di kasur lipat. Sekarang aku tahu, yang membuatku sembuh bukanlah obat melainkan Se Na.

 

****

Se Na POV

Aku bangun karena alarm handphoneku berbunyi. Aku mematikannya lalu merenggangkan badan. Aku terkejut saat tahu aku tidur di tempat tidur Kris sedangkan Kris malah tidur di kasur lipat.

”Kris bangun. Kenapa kamu malah tidur di bawah sih? Kalau kamu sakit lagi bagaimana?” kataku membangunknnya. Dia mengerjapkan matanya lalu bangun. ”Tenang saja, kemarin aku sudah mendapatkan obat yang paling manjur. Jadi aku pasti tidak akan jatuh sakit lagi. Kamu mandi dulu saja baru aku.” katanya tidak jelas lalu kembali tidur. Aish, dasar orang aneh., batinku sambil menendang pinggangnya dan berjalan keluar menuju kamar mandi.

 

****

          ”Kamu sudah sembuh kan?” tanyaku saat perjalanan menuju ke sekolah. Aku merasa aneh dengan Kris hari ini. Dia selalu tersenyum kepadaku hari ini. Saat ada di kereta tadi pagi pun dia mencarikan aku tempat duduk sedangkan dia sendiri malah berdiri berdesakan. Padahal biasanya aku yang dia suruh berdiri. ”Sudah. Kenapa?” tanyanya. ”Aniyo.” jawabku singkat. Apa ini menjadi hari terakhir matahari menampakan diri ya? batinku ngeri.

”Annyeong Se Na, Kris.” sapa Joon Myun  saat kami sampai di kelas. ”Annyeong, apa itu?” tanya Kris sambil menunjuk kantongan besar di samping kursi Joon Myun. ”Oh ya. Se Na ini boneka yang kemarin kamu inginkan. Bagaimana dengan adikmu?” kata Joon Myun sambil memberikan kepadaku boneka beruang kemarin. ”Ternyata kakinya hanya terkilir karena bermain bola. Padahal aku sudah khawatir setengah mati. Gomawo Joon Myun.” elakku sambil memeluk boneka itu dengan riang.

”Syukurlah dia tidak apa – apa. Lain kali kita jalan – jalan lagi ya. Kemarin sebenarnya aku mau mengajakmu ke Namsan tower karena menurutku melihat pemandangan dari tempat tinggi itu sangat indah apalagi malam hari.” katanya sambil tersenyum kepadaku. Aku terkejut mendengar perkataanya. Itu perkataan yang diucapkan byeol wangja 12 tahun yang lalu. Jadi benar Joon Myun itu byeol wangja?

”Kkriing..” suara bel membuatku tersadar dari lamunanku. Kami pun segera duduk di bangku masing – masing. Pelajaran yang diocehkan Kang soengsenim tidak ada satu pun yang masuk ke otak. Bagaimana cara memastikannya? Kalau benar Joon Myun adalah byeol wangja, apa yang harus kulakukan? Kenapa aku menjadi bingung seperti ini? Padahal aku hanya perlu memastikannya.

Pluk. Sebuah pesawat kertas jatuh di mejaku. Aku mengambil dan membukanya. ”Istirahat langsung ke atap.” Kembali juga dia ke sifat aslinya, batinku.

 

****

          ”Kenapa kamu berkata seperti itu ke Joon Myun? Kenapa kamu tidak mengatakan pergi merawatku tetapi malah mengatakan adikmu masuk ke rumah sakit?” bentak Kris di depanku. ”Ada apa sih? Kenapa kamu tiba – tiba marah tidak jelas kepadaku? Aku kan tidak enak dengannya kalau aku mengatakan akan merawatmu!” kataku balas membentaknya. ”Lagi pula kemungkinan besar dia adalah byeol wangja.” lanjutku.

Wajah Kris tampak terkejut tapi langsung ia ganti dengan wajah sinis. ”Oh karena itu aku sudah tidak penting lagi. Mulai sekarang kamu tidak usah mencariku lagi. Kamu urus saja byeol wangjamu.” katanya dan pergi begitu saja. Aku hanya bisa menatap pintu yang tertutup dengan keras itu dengan tatapan heran. Ada apa sebenarnya? Apa salahku?

****

          Sejak kejadian itu Kris tidak pernah menghubungiku lagi. Di sekolah pun dia seperti tidak memedulikan aku. Dia tidak pernah menyuruh – nyuruh aku lagi. Tapi dia lebih sering marah tidak jelas. Teman – temannya sampai heran. Aku juga tidak memedulikan itu semua. Mau apa terserah dia.

Malah sekarang aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan Joon Myun. Joon Myun orangnya lebih baik daripada Kris. Dia tidak pernah menyuruh – nyuruh aku, malah dia yang lebih sering membantuku.

”Joon Myun..” kataku menyapa Joon Myun yang sudah duduk di bangkunya. ”Wae?” katanya sambil tersenyum kepadaku. Melihat senyumannya pikiranku menjadi kosong. Selalu seperti ini. Setiap aku mau bertanya tentang byeol wangja, aku selalu mengurungkannya. Akhirnya aku tidak pernah bertanya – tanya kepadanya. Padahal dia sering juga membantuku mencari byeol wangja. Tapi aku juga salah karena tidak pernah memperlihatkan bandulku kepadanya. Rasanya hatiku belum siap untuk mengetahui jawabannya. Aaakh kepalaku semakin pusing memikirkan masalah ini.

”Eee nanti istirahat mau ke kantin?” kataku. ”Mianhae, sepertinya tidak bisa karena pekerjaanku sedang menumpuk.” katanya dengan wajah menyesal. ”Ah bagaimana kalau aku membawakan makananmu ke ruang OSIS saja? Meskipun kamu repot kamu harus tetap makan. Nanti kamu bisa sakit.” kataku tegas. ”Baiklah kalau kamu tidak repot. Gomawo mengkhawatirkan aku. Tapi dengan melihatmu saja aku akan selalu sehat.” katanya sambil tersenyum ke arahku. Omo, senyumannya. berbeda sekali dengan yang sedang tidur di sebelahku ini. Haah nanti saja mengurus byeol wangjanya, batinku sambil menghela napas.

 

****

          ”Kapan ya aku bisa bertanya tentang byeol wangja kepada Joon Myun?” kataku sambil mengarahkan bandul itu ke arah bulan. ”Lho Se Na kamu punya bandul itu?” tanya appa dari belakangku membuatku terkejut. ”Ini waktu acara kantor appa kan kamu dapatnya? Coba appa lihat kamu ada hurufnya tidak.” kata appa sambil melihat bandulku. ”Ah ada. Harusnya waktu itu kamu kasih kan ke appa, appa bisa dapat hadiah besar.” kata appa sambil tertawa. ”Tapi kamu tidak punya pasangannya ini jadi ya percuma juga.” lanjut appa.

”Maksud appa?” tanyaku bingung. ”Waktu itu appa jadi semacam panitia untuk acara itu. Lalu kami ada ide untuk memberikan hadiah dengan cara membuat bandul ini. Yang diberi hadiah adalah bandul yang memiliki huruf S dan K, singkatan dari nama kantor appa dan juga harus sepasang. Jadi S dengan K. Kami menyebarkannya di kantong kue, kalo tidak salah 6 pasang. Jadi ada 6 bungkus kue yang beruntung. Tapi waktu itu ada 1 pasang yang hilang. Waktu pengumuman hadiah tidak ada yang mengaku punya, akhirnya hadiahnya diberi secara acak. Ternyata ada di kamu. Harusnya anak laki – laki yang bermain denganmu waktu itu pasti pasangan bandulmu.” jelas ayahku.

Berarti aku tinggal memastikan saja apakah punya Joon Myun ada huruf K nya atau tidak. Tapi ada yang aneh. Kalau appa sampai memakai bandul ini sebagai permainan, berarti ini bukan souvenir hotel itu kan? ”Lho appa, kata temanku ini souvenir hotel tempat appa mengadakan pesta waktu itu. Katanya setiap pesta pasti hotel itu mengganti pita yang biasa membungkus kue itu dengan bandul ini.” tanyaku. ”Ani. Siapa yang berkata seperti itu? Appa pukul dia. Konsep ini appa dan tim appa sendiri yang membuat. Bahkan yang membuat bandul ini teman appa sendiri. Kami belain begadang 2 hari untuk menyelesaikannya.” kata appa dengan menggebu – gebu.

Kalau ini buatan tim appa sendiri untuk apa Kris berbohong? Dasar membuat pikiranku bertambah ruwet saja. Pokoknya sekarang aku hanya perlu melihat punya Joon Myun. Apa dia memiliki huruf  K atau tidak. Masalah Kris nanti saja. Aku malas berbicara dengan dia. Tinggal selangkah lagi aku bisa menemukan byeol wangja.

 

****

Kris POV

Aku termenung menatap langit – langit kamarku. Akhir – akhir ini aku merasa kesal melihat Se Na dekat dengan Joon Myun. Setiap melihat mereka tertawa aku selalu merasa ada sesuatu yang membuat hatiku sakit. Seperti kejadian tadi pagi. Sebenarnya aku tidak tidur, aku mendengar semua ucapan mereka. Tapi aku memilih untuk pura – pura tidur sambil menahan rasa marah yang sudah siap meledak.

Aku bukanlah byeol wangjanya. Dia sudah menemukannya dan tidak membutuhkan aku lagi. Apalagi aku sudah mengatakan agar dia tidak usah menemuiku lagi. Aaakh dasar pabo!! Kenapa kamu berkata seperti itu Kris!! runtukku pada diriku sendiri.

Aku lalu berdiri dan melihat ke arah luar jendela kamarku. Langit penuh bintang terbentang tanpa batas didepanku. Melihat jumlah bintang yang ratusan bahkan ribuan itu, aku mendapat semangat yang baru.

Mengapa aku tidak menjadi byeol wangjanya yang baru? Di langit yang menemani sang bulan tidak hanya satu bintang tapi banyak bintang. Aku bisa menjadi bintang yang paling dekat dengan bulan. Bintang yang paling terang yang akan selalu ada di sampingnya.

Meskipun dia sudah menemukan byeol wangjanya, tapi selama Se Na belum mengungkapkan perasaanya aku berhak mendekati Se Na. Bagus, besok aku akan meminta maaf kepadanya lalu aku akan merebutnya dari Joon Myun.

 

****

Se Na POV

Aku bangun keesokan harinya dengan perasaan yang tidak dapat digambarkan. Bahkan semalam aku tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat. Akhirnya setelah aku bertahun – tahun mencarinya, hari ini aku bisa bertemu byeol wangja. Aku segera mandi dan langsung berangkat sekolah tanpa sarapan dahulu. Berharap pagi ini aku bisa bertemu dengan Joon Myun.

Tapi ternyata hari ini Joon Myun dan Kris tidak masuk sekolah karena ada rapat di sekolah lain hingga sore hari. Aku harus menunggu hingga Joon Myun pulang baru aku bisa menanyakannya. Dan kalian semua tahu kan menunggu adalah pekerjaan yang paling dibenci semua orang, begitu juga aku. Waktu seakan berjalan sangat lambat.

Setelah pulang sekolah aku langsung berlari menuju ruang OSIS tapi ternyata ruang itu kosong. Menunggu lagi, batinku kesal. Tapi aku sudah menunggu selama 12 tahun berarti jika menunggu 1 jam tidak apa kan? Aku duduk di sebuah sofa di pojok ruang OSIS. Ruangan sunyi, hanya ada bunyi detik jam. Lama kelamaan aku jatuh tertidur seiring detik yang berlalu.

 

****

          Aku terbangun karena mendengar sebuah suara benda jatuh. Aku mengerjap – kerjapkan mata lalu bangun. Sebuah jas seragam jatuh di bawah kakiku. Aku memungutnya lalu melihat tag nama yang ada di jas seragam itu. ”Kim Joon Myun”. Berarti Joon Myun sudah pulang. Aku segera bangkit dan mulai mencarinya.

Aku menemukan sebuah sosok di balik meja ketua OSIS. Tapi karena lampu yang dinyalakan hanya lampu di depan jendela OSIS aku tidak bisa melihat jelas sosok itu. Aku berjalan menuju meja itu dengan jantung yang berdegup kencang. ”Joon Myun?” tanyaku. ”Ah Se Na, mianhae membangunkanmu. Padahal tadi tidurmu nyenyak sekali. Aku bahkan tidak berani menyalakan lampu takut membangunkanmu.” kata suara yang sangat aku kenal. Lalu ia berjalan dan menyalakan lampu.

”Ada apa mencariku? Ini sudah lama sejak jam pulang, aku antar kamu pulang ya?” katanya sambil mengambil handphonenya yang tergeletak di mejanya. ” Aku boleh pinjam handphonemu dulu untuk telephone ommaku? Baterai handphoneku habis.” kataku. ”Boleh. Ini.” katanya sambil menyerahkan handphonenya kepadaku. Aku mengambilnya lalu keluar dari ruang OSIS.

Aku mencoba mencari huruf K di bandul berbentuk bintang itu. Aku serasa tidak dapat bernapas saat menemukan huruf itu. Berarti Joon Myun adalah byeol wangja. Aku telah menemukannya. Setelah sekian lama, akhirnya aku dapat bertemu kembali dengan byeol wangja. Air mata mengalir melalui pipiku.

Aku mendengar suara pintu terbuka. ”Se Na? Kenapa menangis?” kata Joon Myun sambil memegang pundakku. ”Aku.. menemukan byeol wangja.” kataku lirih. ”Siapa?” tanyanya bingung. Aku lalu menatapnya. ”Aku?” tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Aku hanya mengangguk pelan kemudian mengeluarkan bandulku.

”Kenapa kamu bisa memilikinya juga? Aku mendapatkannya saat pesta kantor milik appaku dan itu sudah lama sekali..” lalu dia diam sejenak. Wajahnya seperti berusaha mengingat sesuatu. ”Jangan – jangan kamu anak perempuan yang dulu tersesat di taman itu?” tanyanya. Aku mengangguk kembali. Dia langsung menarikku ke dalam pelukannya. Aku terkejut hingga aku berhenti menangis.

”Mianhae. Aku telah membuatmu selalu mencariku. Aku tidak bisa menepati janjiku. Aku sebenarnya juga mencari anak perempuan itu. Aku akhir – akhir ini stress karena aku menyukaimu sekaligus tidak bisa melupakan anak itu. Dan ternyata kalian adalah orang yang sama.” katanya sambil memelukku erat. Aku tidak bisa berkata mendengar penjelasannya.

”Menyukaiku?” lirihku tidak percaya. ”Ne. Nae yeojachinguga deojulle?” tanya sambil menatapku. Ini pasti mimpi. Aku tidak hanya menemukan byeol wangja, tapi byeol wangja juga menyatakan cintanya kepadaku. Aku hanya mengangguk pelan sebagai jawabanku. Dia langsung menarikku kembali ke dalam pelukannya. ”Gomawo.” bisiknya. Aku tersenyum lalu membalas pelukannya.

Akhirnya impianku selama ini menjadi kenyataan. Menjadi yeojachingu byeol wangja. Tapi entah kenapa aku merasa sedikit bersalah dengan Kris. Ketika Joon Myun mengungkapkan perasaannya tadi, terlintas wajah Kris tapi langsung kuenyahkan. Kris mianhae.

 

****

Kris POV

Aku hanya bisa bersandar di dinding untuk menahan tubuhku yang sudah lemas. Aku menatap langit yang sudah berubah menjadi gelap. Padahal aku sudah berniat mengambilnya kembali, tapi aku terlambat. Sekarang dia sudah bersama byeol wangjanya.

 

Flashback

          Aku meruntuk kesal kepada kepala sekolah yang tiba – tiba menyuruh aku dan Joon Myun untuk rapat di sekolah lain hingga sore. Aku tidak bisa berbicara dengan Se Na. Begitu sampai di sekolah, sekolah sudah sepi hanya ada segelintir anak. Pasti Se Na sudah pulang.

”Wu Yi Fan nanti kamu buat laporan tentang rapat tadi. Soengsenim tunggu hingga besok.” kata Kang soengsenim. ”Ne soengsenim.” kataku lalu aku menuju ruang komputer untuk membuatnya. Setelah selesai, aku baru menuju ruang OSIS untuk beristirahat dulu baru pulang. Saat itu aku melihat Se Na di depan ruang OSIS.

Aku langsung ingin mendekatinya tapi aku mendengar suara pintu terbuka. Aku cepat – cepat bersembunyi di ujung koridor. ”Se Na? Kenapa menangis?” kata Joon Myun ”Aku.. menemukan byeol wangja.” kata Se Na lirih. DEG! jantungku serasa berhenti berdetak. Se Na akan mengatakan siapa byeol wangja sebenarnya kepada Joon Myun? ”Siapa?” tanya Joon Myun bingung. ”Aku?” tanya Joon Myun.

”Kenapa kamu bisa memilikinya juga? Aku mendapatkannya saat pesta kantor milik appaku dan itu sudah lama sekali..” kata Joon Myun. Berarti Se Na memperlihatkan bandulnya ke Joon Myun. ”Jangan – jangan kamu anak perempuan yang dulu tersesat di taman itu?” tanya Joon Myun. Tuhan, tolong agar Se Na tidak mengiyakannya. Tapi sepertinya permohonanku tidak terkabul.

”Mianhae. Aku telah membuatmu selalu mencariku. Aku tidak bisa menepati janjiku. Aku sebenarnya juga mencari anak perempuan itu. Aku akhir – akhir ini stress karena aku menyukaimu sekaligus tidak bisa melupakan anak itu. Dan ternyata kalian adalah orang yang sama.” kata Joon Myun. Aku terkejut mendengarnya. Joon Myun menyukai Se Na?

”Menyukaiku?” lirih Se Na tidak percaya. ”Ne. Nae yeojachinguga deojulle?” tanya Joon Myun. Hancur sudah harapanku. Se Na selalu berharap agar menjadi yeojachingu dari byeol wangja. Dia pasti menerima Joon Myun. Aku hanya bisa berjalan menjauh. Aku sudah tidak memiliki harapan lagi.

Flashback End

 

Sekarang aku hanya bisa menelan kekecewaanku. Aku bodoh. Andai saja aku tidak marah hanya karena hal kecil mungkin aku masih bisa merebutnya dari Joon Myun. Aku lalu mengambil bandul yang sama persis seperti milik Se Na dan menggengamnya erat – erat.

Ternyata memang hanya ada satu bintang yang paling bersinar dan paling dekat dengan sang bulan. Dan aku tidak akan pernah bisa menjadi bintang itu. Harusnya aku menyadarinya sejak aku berbohong tentang bandulku kepada Se Na. Bandul yang hanya aku dapat karena appaku dulu membuat ini untuk sebuah pesta tidak akan pernah bisa menggantikan bandul Joon Myun yang memeliki sebuah makna indah bagi Se Na. Sama seperti aku tidak akan pernah bisa menggantikan Joon Myun.

Biarlah aku mengingat semuanya. Senyumannya, wajah kesalnya, suaranya, waktu – waku yang kulewati bersamanya terlalu indah untuk dilupakan. Entah kapan aku mampu melupakannya. Mungkin sulit, tapi aku yakin seiring waktu aku akan mampu menerima kenyataan bahwa dia tidak akan ada di sampingku lagi.

­

CHOROP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s