Remake : 네가 위해 편지를

네가  위해  편지를R

Author: Kim Na Na

Genre: Romantic

Length: Oneshoot

Cast:  Oh Se Hun

Hyu Ra (OC)

Kim Joon Myun

Other Cast:  Xi Lu Han

Kim Min Seok

Kim Jong In

Note: Remake dari ff yg berjudul sama dengan cast yang berbeda. Ceritanya sih lebih ngalir daripada yang pertama. Ok Happy reading

네가  위해  편지를

          Desa gippeum. Sebuah desa yang jauh dari Seoul. Di sinilah aku berada dan menemukan seseorang yang berharga bagiku.

****

          “Selamat datang, ada yang bisa aku bantu.” kataku saat melihat seseorang memasuki kantor pos tempatku bekerja. Di desa ini satu-satunya alat komunikasi adalah surat mengingat begitu jauhnya desa ini dengan Seoul.

“Maaf, saya ingin mengirimkan surat ini ke Kim Joon Myun di Seoul. Bisa anda tolong bantu saya menuliskan suratnya. ” kata cewek itu. ”Hah? ” Aku baru menyadari  yeoja itu hanya melihat ke satu arah saja. Dia buta.

“Ada apa Se Hun? Oh Hyu Ra. Dia memang begitu. ” kata Lu Han yang ada disebelahku “Ah mian aku anak baru disini jadi yaa… Silakan bicara. Akan aku tulis.” kataku sedikit malu.

”Joon Myun oppa, bagaimana keadaanmu? Di sini Hyu Ra baik-baik saja. Sebentar lagi ulang tahun oppa. Hyu Ra jadi ingat saat tahun lalu merayakannya dengan oppa. Oppa, nan jeongmal bogoshipoyo. Hyu Ra ingin oppa cepat pulang sehingga dapat merayakan ulang tahun oppa di sini. Dari Hyu Ra. Sudah sebegitu saja. ”

”Ke Kim Joon Myun di Seoul. Ok aku akan urus sisanya. ” kataku sambil melipat suratnya. ”Gomawo, kalau begitu saya permisi dulu. ” katanya sambil membungkuk lalu pergi.

”Lu Han, bukannya Joon Myun itu yang meninggal beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan? ” ”Iya, warga desa sengaja tidak memberi tahu Hyu Ra tentang itu. Kita semua tidak tega memberi tahunya. Dia anak baik, dia pasti akan sedih jika tahu laki-laki yang dicintainnya meninggal karena ingin mencari uang untuk mengobati matanya. Selama ini dia mengira Joon Myun  tidak membalas surat-suratnya karena sibuk. ”

****

          Hyu Ra datang tiap akhir minggu untuk mengirim surat. Meskipun dia tidak bisa melihat, aku tahu melalui matanya dia sangat menyayangi Joon Myun.

Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa harus membuatnya tersenyum. Semakin hari aku semakin dekat dengannya. Aku kagum dengan kepercayaan yang ditunjukannya. Dia mau mempercayai sesuatu yang bahkan tidak bisa dilihatnya langsung.

Suatu hari aku pernah bertanya padanya ”Bagaimana jika di sana Joon Myun melupakanmu?” ”Aku akan selalu disini untuk menunggu dan mengingatnya. ” katanya sambil tersenyum manis.

****

          ”Min Seok jika aku menjadi Joon Myun untuk membalas surat Hyu Ra bagaimana? Tidak masalah kan? ” kataku pada kepala bagianku di kantor pos ”Ya tidak masalah sih. Mungkin Hyu Ra menjadi lebih semangat. Tapi jangan sampai Hyu Ra tahu. ” kata Min Seok lalu berjalan pergi. Mungkin aku sekarang akan memuntuknya tersenyum tapi aku tidak menyadari bahwa suatu saat senyuman itu dapat hilang berganti kekecewaan dan tangisannya.

****

          ”Hyu Ra ada surat untukmu dari Joon Myun. ” kataku saat Hyu Ra datang lagi untuk mengirim surat. ”Benarkah? Wah akhirnya. Aku pikir Joon Myun oppa lupa tentang aku. Se Hun bisa minta tolong bacakan. ” katanya semangat.

”Annyeong Hyu Ra, mian  aku tidak bisa membalas surat-suratmu. Di sini oppa sibuk jadi tidak bisa membalas surat-suratmu. Tapi berkat surat-suratmu oppa jadi semangat untuk bekerja. Mungkin oppa tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini. Tapi jangan khawatir oppa akan selalu mengingatmu. Akhir-akhir ini oppa sudah punya pekerjaan tetap jadi oppa dapat membalas surat-suratmu. Jaga dirimu baik-baik di sana. Oppa tidak ingin mendengar kamu sakit. Dari Joon Myun yang selalu menyayangimu. Selesai. Akhirnya suratmu dibalas juga. ” kataku sambil melipat surat yang sebenarnya aku tulis sendiri.

”Aku tahu oppa tidak melupakanku. Gomawo Se Hun. ” katanya sambil tersenyum. Senyum yang selalu mampu membuatku ikut tersenyum juga.

”Ini suratnya. Kamu simpan baik-baik. Oh ya rumahmu di daerah mana? ” tanyaku. ”Di seberang sungai kira-kira dekat pohon mae yang besar itu. Aku tinggal dengan kakakku. ” jelasnya ”Jauh sekali. Begini saja aku nanti tiap minggu ke sana untuk mengambil suratmu dan sekalian bawa surat Joon Myun. Lagi pula makin banyak orang tua yang tidak bisa ke sini lagi jadi aku bisa sekalian membantu mereka. Kamu mau menemaiku tidak untuk mengambil surat orang tua itu? Soalnya aku kurang disukai nenek-nenek dan kakek-kakek. Dulu aku usil sekali, sering mengerjai mereka, jadi kalau aku muncul lagi sekarang aku bisa dilempar sapu.” kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

”Hahaha aku sering dengar waktu kecil nenek tetangga marah- marah karena ada anak yang suka menyuri buah plum yang ada di kebunnya. Ternyata itu kamu. Hahaha. Baiklah aku bantu kamu mengambil surat. Aku juga suka melihat pemandangan desa ini tapi karena keterbatasanku aku jarang jalan jauh. Kalau begini aku bisa sekalian melihat pemandangan desa. Aku tidak perlu khawatir kan ada kamu yang jaga aku. ” katanya sambil tersenyum lebar. DEG! Gawat jantungku, kenapa berdebar cepat seperti ini?

”I Iya. Kalau begitu mulai minggu depan ya. ” kataku. “Baik. Gomawo Se Hun. Kalau begitu aku pulang dulu ya. ” katanya seraya berdiri “Eh chakaman. Mau aku antar?  Sekalian aku mau mengambil surat ke nenek Kim di dekat rumahmu. Tunggu sebentar ya aku ambil sepedaku dulu. ” kataku sambil berlari mengambil sepedaku “Ya sudah aku tunggu kamu ambil sepeda. ”

****

          “Wah kamu cepat sekali mengayuh sepedanya. Rasanya seperti terbang. ” kata Hyu Ra sambil tangannya memegang erat bajuku  “He he he ini berkat aku sering nyaris telat kalau sekolah dulu, jadinya aku harus mengayuh  sepada cepat cepat agar tidak telat. ” kataku sambil tersenyum. “Hahaha, tapi ada untungnya juga kan sekarang. Kamu jadi cepat kalau mengantar surat. ” “Ya juga sih. ” kataku terkekeh

“Lihat! Deretan bunga mae. Kyeopta” kata Hyu Ra sambil mengulurkan tangannya saat kami melewati jalan yang diapit deretan bunga mae. Angin lembut menerpa pohon-pohon mae itu hingga bunga mae berguguran dan jatuh ke jalan. Membuat jalan seperti berkarpet pink. ”Maaf , tapi kan kamu tidak bisa lihat kok bisa tahu ada bunga mae? ” kataku bingung. Aku penasaran selama ini dia seperti tahu apa yang ia lihat meskipun matanya buta. “Aku melihat bukan dengan mataku tapi dengan hati. Aku bisa tahu kamu meski mungkin tidak bisa tahu persis wajahmu tapi aku tahu kalau kamu orang baik. ” “He he he jadi malu. ” kataku

Kami melewati jalan yang membelah ladang hijau dengan dilatar belakangi perbukitan. Matahari berada tinggi di langit biru dengan awan putih disekitarnya. Lalu kami melewati jembatan untuk menyebrangi sungai yang aliran airnya bergemricik lembut. Kurang lebih 10 menit dari situ terlihat pohon mae besar yang dibawahnya terdapat rumah Hyu Ra

”Sampai! Hebat, kamu rela menempu jarak sejauh ini demi mengantar suratmu untuk Joon Myun. ” kataku saat sampai di depan rumahnya. “Apapun asal kamu memiliki kemauan kuat kamu pasti bisa melakukannya. Gomawo sudah mengantarku. Minggu depan ketemu lagi ya. Annyeong. ” katanya sambil melambai ke arahku. Aku membalas lambainnya dan ia masuk ke rumahnya. Sedalam itukah perasaanya pada Joon Myun? Apa aku sanggup menajadi pengganti Joon Myun tidak hanya dalam surat tapi juga di hati Hyu Ra?

****

          “Ini suratmu. Aku bacakan dulu setelah itu baru kita keliling desa.” kataku. Dia mengangguk semangat. ”Annyeong Hyu Ra. Bagaimana keadaanmu? Di sini aku baik-baik saja dan aku mulai menabung untukmu. Sabar ya, pasti aku akan mengumpulkan cukup uang untuk biaya operasimu. Aku ingin menjadi orang pertama yang dapat kau lihat. Setelah itu kita akan selalu bersama. Dari Joon Myun. ”

Itu memang dari isi hatiku. Aku memang sedang mengumpulkan uang agar Hyu Ra dapat melihat. Aku berharap Hyu Ra dapat melihat indahnya dunia ini secara langsung. Aku ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya setelah membuka mata. Tapi aku tahu begitu dia membuka matanya maka cepat atau lambat dia pasti akan mengetahui kebenarannya. Aku takut dia akan membenciku setelah mengetahui aku telah membohonginya selama ini.

”Joon Myun oppa memang baik ya. Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya lagi. Se Hun tolong tuliskan ini. Annyeong oppa. Aku senang disana kamu baik-baik saja. Gomawo oppa sudah mau bekerja keras demiku. Tapi oppa jangan bekerja terlalu keras hingga sakit ya. Di sini aku punya teman baru namanya Oh Se Hun. Dia yang selalu membantuku menulis surat untukmu dan menyampaikan suratmu kepadaku. Dia sangat baik, aku berterimakasih padanya. Kalau kamu pulang, akan aku kenalkan. Karena itu cepat pulang ya. Hyu Ra. sudah segitu saja. Gomawo. Kata – kata di suratku itu sungguh – sungguh. Aku sangat berterima kasih padamu. Kamu sahabatku yang paling baik. Aku sejak kecil tidak punya teman karena aku buta, makanya aku sangat senang bisa mempunyai teman sepertimu. ” katanya sambil tersenyum

Sakit. Aku tahu bukan aku yang dia inginkan disampingnya, melainkan Joon Myun. Aku sudah lama menyadarinya. Tapi ternyata rasanya masih sakit. Apalagi dia berkata aku temannya yang paling baik. Aku tidak tahu apa yang akan dia katakan jika tahu aku telah membohonginnya.

“Nah selesai. Kajja, sekarang kita keliling desa. Nanti kamu yang masuk rumahnya dulu ya. Kalau aku.  bisa dilempar sapu malahan. ” kataku sambil menggandeng tangannya. Tidak apa-apa sekarang aku nikmati dulu waktu-waktu bersamanya ini. Aku akan melakukan apa pun asal dia bahagia.

“Sudah siap. Pegangan ya. ” kataku sambil mengayuh sepeda. Angin menerpa lembut wajahku. Hyu Ra memegang kaosku dengan satu tangannya sementara tangan yang lain memegangi topinya agar tidak terbang  sambil sesekali tertawa menedengar komentarku.

Melihat tenangnya air sungai, aku menjadi ingin mengajak Hyu Ra bermain di sana. Aku membawa sepedaku ke tepi sungai dan berhenti. ”Lho kenapa tiba-tiba berhenti? Ada apa? ” tanya Hyu Ra heran. Lalu tiba-tiba aku melemparkan air ke arahnya. ”Kyaa, hya Se Hun! ”  katanya sambil melihatku dengan kesal.

Aku  menggandengnya ke arah sungai. Kami bermain air sampai puas lalu kembali ke tepi sungai. ”Hahaha. Basah kuyup sekali. Kita tiduran di sini dulu saja sambil mengeringkan baju. ”  kataku sambil merebahkan badan di rumput hijau yang empuk. Dia juga melakukan hal yang sama. Kami berdua hanya diam memandangi langit. Terdengar suara serangga. Angin berhembus lembut. Suasan yang tenang. Dari dulu aku berharap dapat menikmati hal seperti ini dengan orang yang kusuka. Ternyata sekarang harapanku terwujud, meski dia tidak menganggapku sebagai orang yang dia sukai.

“Hyu Ra, kamu sangat menyayangi Joon Myun? ” tanyaku memecah keheningan ”Ya, dia segalanya bagiku. Sejak aku kecil dia yang selalu menjagaku, melindungiku. Aku waktu kecil sering diejek karena aku buta. Di saat seperti itu dia selalu ada untuk menolongku. Sampai sekarang dia masih menjaga dan melindungiku. Kamu tahu kan dari surat-suratya. Karena itu aku sangat mencintainya. ”  katanya sambil tetap memandang langit.

Di langit yang luas hanya ada tempat bagi setu matahari. Matahari yang akan selalu menyinari langit, yang mampu membuat langit menjadi cerah.  Begitu pula di hati Hyu Ra tidak ada tempat bagiku. Hanya Joon Myun seorang yang mampu mebuatnya bahagia.

”Eh tapi tahu tidak? Di surat rasanya dia berubah . Kamu tahu dulu dia orang paling diam dan cuek. Dia jarang berbicara bahkan dengan aku juga, meski aku tahu dia sayang padaku, tapi sekarang dia mau menunjukkan perasaannya. Dia mau terang-terangan mengatakan dia mengkhawatirkan aku atau dia kangen sama aku. Mungkin Seoul merubahnya jadi seperti itu. Tapi aku lebih senang dia seperti itu. Dia bisa membuatku lebih bahagia sekarang. ” katanya sambil tersenyum ke arahku.

Dadaku sakit melihatnya tersenyum. Aku tahu yang dia maksud adalah suratku tapi aku juga tahu bahwa senyuman itu bukan untukku tapi untuk Joon Myun.

”Ah sudah kering. Kajja kita lanjutkan mengantar suratnya. ”kataku sambil bangun, menepuk celanaku untuk membersihkan debu dan membantunnya berdiri. Aku sudah bahagia jika surat-suratku dapat membuatnya tersenyum, meski itu berarti hatiku harus sakit.

****

          ”Haaah akhirnya selesai juga. Seru sekali ya ternyata mengantar surat itu. ” kata Hyu Ra saat kami menyusuri jalan pulang. ”Ya kan, karena aku mau mengantar surat meski gajinya tidak seberapa. Toh aku masih ada kerjaan lainnya. Rasanya aku ikut bahagia kalau aku melihat seseorang bahagia karena surat yang aku antar. ” ”Wah hebat. Kamu orang yang baik dan perhatian ya. Kamu tahu, aku menganggapmu seperti kakakku sendiri lho. Pokoknya kamu sahabat sekaligus kakakku yang paling baik. ” katanya sambil mengacungkan kedua jempolnya dan tersenyum.

Mendengar itu di hatiku hanya ada rasa takut. Bagaimana kalau dia tahu aku yang sahabat sekaligus kakaknya ini ternyata sudah    membohonginya? Apakah dia akan marah, kecewa?

”Iya, kamu juga adikku yang paling bawel.” kataku menggodanya. ”Hyaa.” katanya sambil memukul punggungku.

Satu kata lagi yang membuat hatiku sakit sekaligus membuatku senang. Dia hanya menganggapku sahabat dan kakaknya. Di hati Hyu Ra, Joon Myun tetap satu-satunya orang yang dicintainya. Tapi meski begitu aku sudah senang. Berati aku sudah menjadi sesorang yang penting baginya.

****

          ”Hei Hyu Ra sepertinya hari ini ada kejutan. Tidak biasanya surat Joon Myun tebal seperti ini. Aku buka ya. ” kataku semangat. Akhirnya setelah 6 bulan aku bekerja keras hingga lembur dan bekerja di 5 tempat sekaligus aku bisa mengumpulkan uang untuk operasi mata Hyu Ra.

”Annyeong Hyu Ra. Setelah aku berusaha keras selama ini akhirnya uang operasimu berhasil aku kumpulkan. Mulai minggu depan kamu sudah bisa menjalani perawatan. Tapi maaf aku tidak bisa mendampingimu. Kamu tahukan pekerjaanku tidak semudah itu aku tinggalkan. Tapi aku tetap akan mendukungmu lewat surat kok. Jadi tetap semangat ya. Dari Joon Myun. Wah akhirnya kamu bisa menjalani operasimu” kataku sambil tersenyum. Aku tidak sabar melihatnya dapat melihat.

”Iya. Aku senang sekali. Tapi oppa benar-benar tidak bisa ya? Padahal aku ingin melihatnya ketika pertama kali bisa melihat. ” katanya dengan wajah kecewa. ”Ya mungkin dia benar-benar repot. Kan tidak semudah itu cari kerjaan tetap. ” kataku berusaha mencari alasan. ”Ya juga ya. Kamu bisa tulis ini? Annyeong saranghaneun Joon Myun oppa. Kamu tahu begitu aku membaca surat ini, hatiku rasanya nyaris meledak karena bahagia. Aku sangat berterima kasih pada oppa. Apa yang harus kulakukan untuk membalasmu? Tapi aku sedikit sedih karena oppa tidak bisa menemaniku. Karena itu oppa harus selalu mengirimiku surat. Dengan begitu aku bisa lebih semangat lagi. Doakan aku ya. Dari Hyu Ra. Sudah. Wah aku tidak sabar untuk melakukan perawatan! ” katanya kegirangan

”Hehehe aku juga. Tapi untukku matamu selalu indah kok. ” Hah ?!  Gawat keceplosan. ”A a aku pergi dulu ya. Banyak kerjaan nih. Annyeong.” kataku agak gugup. Aku langsung mengambil sepedaku dan pergi dari rumah Hyu Ra. Apa yang kukatakan? Bagaimana kalau sampai dia menyadari perasaanku?

****

Satu tahun kemudian. . . . .

Sudah satu tahun Hyu Ra menjalani perawatan. Operasi demi operasi telah Hyu Ra lewati, besok dia akan dibuka perbannya.

”Hyu Ra!!! ” seruku sambil masuk ke ruangan Hyu Ra. ”Se Hun? Hari ini Joon Myun tidak datang lagi? ” katanya dengan nada kecewa. ”Sepertinya tidak. ” kataku sambil tersenyum pahit. Sudah satu tahun lebih kamu tidak melihat Joon Myun, mengapa kamu masih tetap menunggunya? Padahal dia hanya mengetahui keadaan Joon Myun dari surat-surat saja. ”Se Hun, bagimana kalau waktu aku bisa melihat nanti dunia yang aku lihat tidak seprerti yang aku kira selama ini! Aku takut melihat kenyataannya. ”

”Jangan takut. Dunia tidak akan berubah. Hanya saja kamu selama ini melihat dunia dari satu sisi. Ketika kamu membuka mata nanti kamu dapat melihat dunia dari beragam sisi. Dan itu merupakan hal yang menarik. Jangan khawatir kan ada aku. Aku akan selalu bersamamu. ” kataku sambil menggengam tangannya.

”Gomawo. Tapi kenapa ya Joon Myun tidak pernah datang? Apa dia memang serepot itu?  Atau dia sudah tidak memperhatikanku? ” katanya dengan nada cemas. ”Tidak mungkin . Kalau dia tidak memperhatikanmu lagi untuk apa dia mengirim surat untuk menanyakan keadaanmu tiap minggu? Mungkin memang pekerjaanya sama sekali tidak bisa ditinggal segampang itu. Kamu harus mempercayainya. ” kataku berusaha mencari alasan. ”Iya ya. Benar aku harus mempercayainya. ” katanya sambil tersenyum.

****

Hyu Ra POV

”Nah perbannya sudah saya buka. Sekarang buka mata pelan-pelan. ” kata dokter Park

Aku membuka mata. Ada cahaya yang masuk yang membuat mataku sedikit sakit. Aku berusaha membuka mata lagi dan sekarang samar kulihat siluet seseorang. Kukerjapkan mata akhirnya aku bisa memfokuskan pandanganku.

”Joon Myun? ” tanyaku saat melihat seorang laki-laki yng berdiri dihadapanku. ”Maaf aku bukan Joon Myun yang kamu harapkan. Aku Se Hun” katanya sambil tersenyum sedih.

Air mata sudah mengalir melalui pipiku. ”Tidak apa-apa. Sudah bisa melihat saja aku sudah senang. ” isakku. Lalu Se Hun memelukku ”Aku senang kamu bisa melihat. Aku akan selalu disampingmu agar hal-hal menyenangkan saja yang kamu lihat. ” katanya sambil mengusap rambutku.

****

”Oppa, aku pergi dulu. Aku mau memberi kue ini ke Se Hun. ” kataku sambil menuju pintu. ”Lho kok hari ini? Biasanya kan hari sabtu. ” kata Jong In oppa bingung.  ”He he he aku mau memberinya kejutan. Ini kan hasil karya pertamaku. ” kataku sambil tersenyum membayangkan reaksi Se Hun. ”Ya sudah hati-hati ya. ” kata Jong In oppa lalu membaca lagi

Aku berjalan riang menuju kantor pos. Sambil sesekali melihat ke arah bungkusan yang aku bawa. ”Bagaimana ya nanti komentar Se Hun? ” pikirku sambil tersenyum.

”Lu Han oppa, Se Hun ada dimana? ” tanyaku pada teman kerja Se Hun di kantor pos. ”Ada di belakang. ” katanya sambil tersenyum dan menunjuk ke arah belakang kantor pos. ”Oo. Gomawo Lu Han. ” ”Se… ” aku ingin memanggil Se Hun tapi dia sedang bicara dengan seseorang. Kalau tidak salah namanya Min Seok, dia atasan Se Hun, jadi lebih baik aku mengalah dulu. Kan tidak enak dengan Min Seok nanti.

”Sedang menulis surat lagi? Haah. . Kapan kamu akan mengaku kalau surat-surat itu kamu yang tulis? ” tanya Min Seok pada Se Hun. ”Apa maksudnya? ” batinku. Aku langsung terdiam di tempatku ”Mungkin sebentar lagi. Dia sudah selesai operasi berarti keinginan Joon Myun sudah terpenuhi. Mungkin sekarang Joon Myun  sudah bisa tenang di surga. ” kata Se Hun sambil tersenyum pahit. ”Di surga? Apa maksud semua perkataanya? ”. Aku bingung dengan semua perkataan ini.

”BRAK. ” tanpa sadar bungkusanku terjatuh. Se Hun langsung menoleh ke arahku. Aku menatapnya dengan tatapan penuh amarah. ”Hyu Ra. Aku ak. . . ” katanya sambil mendekatiku. ”PLAKK. ” aku menampar pipinya keras. ”Aku tidak menyangka kamu setega itu. Aku pikir kamu orang yang baik ternyata kamu hanya seorang pembohong.  Aku benci kamu!! ” teriakku dan berlari meninggalkannya. Air mata sudah mengalir di pipiku. Kenapa dia tega mempermainkan perasaanku pada Joon Myun oppa?

****

Se Hun POV

Aku hanya bisa melihatnya pergi meninggalkanku. Aku tahu aku sudah membohonginya Sudah tidak mungkin lagi memintanya untuk memaafkanku. Terlalu dalam luka yang kutorehkan

Aku kembali melihat Min Seok yang tadi mengajakku berbicara. ”Kamu tidak apa-apa? Kamu kejar dia” katanya sedikit panik. ”Aniyo. Aku yang salah. Aku tidak berhak untuk meminta maafnya. ” kataku sedih. ”Tapi paling tidak kamu harus menjelaskannya.  Kalau begini kasihan dia, dia pasti bingung dalam keadaan seperti ini. ” jelasnya dengan tersenyum memberiku semangat.

Benar, aku harus menjelaskan semuannya. Dia tidak boleh sampai kebingungan seperti ini. ” Min Seok aku pergi dulu. ” kataku sambil belari. Aku belari keluar dari kantor pos dan tiba-tiba ada seseorang yang berteriak ”AWASS. ” Dan pandanganku menjadi gelap.

****

Hyu Ra POV

Aku berlari memasuki kamar dan langsung terduduk lemas di lantai. Air mata sudah mengalir deras dari pelupuk mataku. Kenapa dia membohongiku? Apa benar Joon Myun oppa sudah meninggal?  Mengapa tidak ada yang memeberitahuku? Semua pertanyaan itu membuat hatiku sakit.

”Hyu Ra, Hyu Ra. Se Hun kecelakaan sekarang dia ada di klinik. ” teriak Jong In oppa panik sambil membuka pintu kamarku. Tanpa pikir panjang aku langsung belari menuju klinik. ”Tuhan jangan ambil lagi orang yang aku sayangi. Tolong selamatkan Se Hun. ” doaku dalam hati sambil terus belari.

”Permisi Oh Se Hun dimana? ” tanyaku pada seorang perawat. ”Dia sedang di ruang perawatan. ” katanya sambil menunjuk ruang yang dimaksud. ”Kamsahamnida. ” kataku sambil langsung menuju ke ruang itu.

”Se Hun. ” kataku sambil membuka pintu. Di sana aku melihat Se Hun duduk bersandar di tempat tidur. Kepalanya di perban. ”Hehehe, jangan khawatir aku hanya terserempet sepeda lalu jatuh menghantam batu yang cukup besar. Lho kenapa? ” tanyanya bingung ketika aku menangis dan langsung belari memeluknya. ”Jangan tinggalkan aku. Sekarang hanya kamu yang aku punya. Joon Myun oppa sudah tidak ada. Kalau sampai kamu juga pergi apa yang harus aku lakukan? ” isakku.

”Maaf telah membohongimu. Seluruh desa tidak ingin melihatmu sedih jadi kami merahasiakan kematian Joon Myun. Tapi aku tidak tega melihatmu yang tetap mengirim surat kepadanya. Melihat begitu besar kepercayaanmu aku memutuskan untuk menjadi Joon Myun dalam membalas surat-suratmu. Maaf ya aku berbuat egois tanpa memedulikan perasaanmu.  Aku tidak papa kok kalau kamu tidak memaafkan aku. Aku tahu aku salah. ” katanya sambil membelai rambutku.

Ternyata dia melakukan ini semua karena aku. Aku tidak tahu apa-apa tapi langsung menyebutnya pembohong. ”Mianhae, jeongmal mianhae. ” isakku ”Lho kok kamu yang minta maaf? Kan aku yang salah. ” Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya dengan kesal ”Ya aku akan memaafkanmu tapi dengan satu syarat. Kamu temani aku ke makam Joon Myun. ”

Tiba-tiba dia langsung menarikku lagi kedalam pelukannya. ”Gomapta telah memaafkanku. Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta. Aku berjanji tidak akan pernah membohongimu lagi. ” katanya dengan suara bergetar. Aku tahu dia juga menangis. Aku membiarkannya memelukku.

****

          ”Ternyata ini makam Joon Myun oppa. ” kataku di depan sebuah makam. ”Ya. jadi sebenarnya Joon Myun sudah lama kembali ke desa ini. ” kata Se Hun. Aku berjalan mendekat. Se Hun hanya melihat.

Makam Joon Myun oppa terletak di sebuah bukit di bawah pohon mae yang besar. Angin berhembus pelan membuat bunga mae berguguran di atas makam Joon Myun oppa.

Aku berdoa sambil menagis. Setelah aku berdoa aku berkata pada makam Joon Myun oppa. ”Joon Myun oppa mianaku baru mengunjungimu sekarang.  Andai saja aku tahu akan begini jadinya aku tidak akan membiarkanmu pergi ke Seoul. Tapi aku berterima kasih kepadamu. Oppa, sekarang oppa tidak usah khawatir lagi. Sekarang aku sudah mampu melihat. Melihat dunia yang indah. Aku tidak sendiri lagi. Ada Se Hun yang menjagaku. Jadi oppa harus bahagia disana. ”. Lalu aku melihat ke arah Se Hun sambil tersenyum dan menariknya mendekat.

”Ini Se Hun. Dia orang yang baik. Aku bahagia bisa bertemu dengannya. Dia adalah orang yang aku cintai. ”. Aku tahu Se Hun melihatku dengan mata terbelalak. ”Sekarang oppa istirahat yang tenang ya. Aku akan selalu mendoakan oppa. Aku tidak akan pernah melupakan semua kenangan indahku dengan oppa. Selamat tidur oppa. ” kataku. Aku lalu meletakan bunga dan berjalan pergi. Tapi tangan Se Hun menahan tanganku

”Hyu Ra. Apa maksudmu tadi? ” tanya Se Hun. Aku berbalik dan tersenyum kepadanya. ”Sudah jelaskan.  Saranghaeyo. Kamu sudah memberiku banyak hal sekarang aku akan membalasnya. Aku baru sadar rasa sukaku pada Joon Myun oppa seperti rasa suka seorang adik pada kakaknya. Tapi aku menyukaimu bukan sebagai seorang kakak tapi sebagai seseorang yang aku cintai dari hatiku yang terdalam. ”.

Dia memelukku. ”Aku juga menyukaimu. Aku pikir aku tidak akan pernah menjadi matahari bagimu. Gomawo. Aku berjanji aku akan selalu membuatmu bahagia. ” katanya. ”Dan tidak akan membohongiku lagi. ” tambahku. Dia melepaskan pelukannya dan tersenyum. ”Tidak akan pernah lagi. ” lalu dia mendekatkan wajahnya dan kami pun berciuman di bawah bunga mae yang berguguran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s