Tiramisu

Tiramisu

Title                       : Tiramisu

Author                  : Kim Na Na

Main Cast            : Oh Se Hun

Park Rin Ah (OC)

Other Cast          : Do Kyung Soo

Byun Baek Hyun

Kim Jong In

Length                  : One shot

Genre                   : Romance, fluff, sad

Rating                   : PG-15

Author Note      : Yak kembali lagi dengan ff author dengan main cast masih Se Hun #whirlwindsejati. Tapi sebenarnya author juga mulai bosen kok pake Se Hun melulu. Tapi mau gimana lagi, ide nggak keluar kalau main castnya bukan Se Hun #malahcurhat. Oh ya kalian bisa request ff ataupun poster ke aku. Tapi kalau mau request di wp author saja https://tsubakihimefanfic.wordpress.com/ Ok langsung saja baca dari pada ngiklan g jelas. Ijjima, RCL-ka juseyo, ne ^^

Summary             : Dipertemukan oleh liebestraum No.3, disatukan oleh cinnamon roll dan diakhiri dengan tiramisu.

~ TIRAMISU ~

“Gawat, aku sudah terlambat 15 menit.” batinku sambil terus berlari. “Ini semua karena Kyung Soo hyung meminta tolong padaku padahal kan hari ini bukan shiftku. Awas saja Jong In yang seenaknya tidak masuk jadi aku harus menggantikannya.” omelku sambil terus mengutuk kedua orang itu. Tanpa sadar aku sudah sampai di taman tempat kami berjanji bertemu.

Aku lalu melihatnya duduk dilatar belakangi dengan kumpulan bunga musim panas. Hanya dengan duduk begitu saja dia sudah terlihat neomu yeppuda. “Rin Ah-a  mianhae aku terlambat.” kataku sambil terengah karena berlari. “Gwenchana. Aku juga baru datang.” katanya sambil tersenyum. “Ah.. beruntungnya aku punya yeojachingu seperti dia.” batinku.

“Oppa, hari ini oppa mau mengajakku kemana?” tanyanya. “Ehmm, ke pantai.” kataku. “Jinja? Yeee..” katanya sambil tertawa lebar. “Tapi sebelumnya kita makan dulu, eotte? Aku belum makan sejak pagi karena harus membantu Kyung Soo hyung di cafe. “ kataku sambil memegang perutku yang sudah keroncongan. “A! Kebetulan aku tahu kedai yang enak. Aku ingin mencoba kimbap rasa tom yamnya isi kare.” kata Rin Ah semangat. Kimbap rasa tom yam isi kare? Memang itu bisa dimakan? batinku bingung sekaligus sedikit ngeri.

Tapi begitulah Rin Ah yang aku kenal. Sedikit ceroboh, suka mencoba hal-hal yang aneh, tapi baik hati. Sebenarnya hari ini aku mengajaknya ke pantai karena aku ingin melamarnya. Setelah 7 tahun kami berpacaran, aku pikir sekarang saat yang tepat untuk melanjutkan hubungan kami. Aku tidak sabar melihat wajahnya nanti.

**&**

“Kyeopta!” serunya ketika kami sudah sampai di pantai. Pantai ini letaknya tersembunyi sehingga tidak banyak orang yang tahu. Serasa seperti pantai kami sendiri. Pemandangan di sini juga indah. Langit biru yang tinggi dengan awan putih bergelung serasa menyatu dengan laut biru yang jernih, kontras dengan pasir yang putih.

Setelah puas bermain air kami pun kembali ke pantai. “Ah aku lelah tapi aku masih semangat.” kata Rin Ah sambil duduk di pasir. “Aku beli minuman dulu. Tadi aku lihat ada kedai di sana.” kataku lalu pergi untuk membeli minuman sekaligus mempersiapkan sesuatu.

“Igeot.” kataku sambil menyerahkan sebuah botol. “Gomawo, eh ige mwoya?” katanya sambil mengeluarkan surat yang ada di dalam botol itu. “Would you marry me?” kataku bersamaan dengannya yang membaca isi surat itu. “Oppa..” ucapnya lirih sambil melihat kearahku. “Mungkin aku tidak bisa memberimu sesuatu yang berharga, tapi aku pasti akan selalu memberimu cinta dan kebahagiaan sepanjang hidupku.” kataku lagi sambil tersenyum kepadanya. Dia pun memelukku. “Asal kamu mau selalu bersamaku saja itu sudah cukup.” katanya. Aku membalas pelukannya.

“Masih ada lagi hadiah di dalam botol itu. Coba kamu lihat.” kataku sambil melepaskan pelukannya. Dia lalu mengambil kembali botol yang sempat terlupakan, lalu dia tersenyum. “Ternyata kamu membelinya juga kan?” katanya sambil memakai cincin yang kuberikan. Cincin itu sebenarnya cincin yang 2 bulan lalu dia inginkan, tapi aku malah mengatakan bentuknya jelek. Kami sempat bertengkar sebentar karena hal itu.

“Neo joahae?” tanyaku. “Ne. Benarkan kataku, aku pasti cocok memakai cincin ini.” katanya sambil memamerkan jari manisnya yang dihiasi cincin pemberianku. Aku hanya tersenyum lalu tiba-tiba mengangkatnya tinggi – tinggi ke langit, membuatnya berteriak karena terkejut. “Ah sebentar lagi aku akan punya seorang nyonya Oh yang cantik di rumahku.” kataku sambil tersenyum kepadanya. Dia tersenyum lalu aku mendekatkan bibir kami berdua.

Semoga kami akan selalu bersama dan perasaan kami tidak akan pernah berubah selamanya.

**&**

Kami menaiki bus untuk pulang ke apartemennya. Dia hanya memandang ke arah jalan sambil bersandar di pundakku. “Rin Ah-a, kamu ingat lagu ini?” tanyaku sambil memberikan sebelah headsetku kepadanya. “Tentu saja ingat.” katanya setelah mendengarkan sejenak lagu yang kumaksud. Liebestraum No.3

Lagu ini adalah lagu saat kami pertama bertemu. Lagu yang memiliki arti penting bagi kami berdua

Flashback 7 tahun yang lalu

“Oh Se Hun berhenti kau! Enak saja pergi begitu saja setelah mengacaukan ruang PKK!” seru Kang senim setelah melihat ruang PKKnya yang kacau karena aku pakai untuk uji coba kue. Dari dulu aku memang suka membuat kue. Karena itu sekarang pun aku bekerja sebagai patisserie di café Kyung Soo hyung.

Saat aku kabur, aku melihat sebuah ruangan yang jendelanya terbuka. Tanpa pikir panjang aku langsung melompat masuk ke ruangan itu. Ternyata di sana ada seorang yeoja sedang bermain piano, yang setelah itu aku tahu nama yeoja itu Park Rin Ah. Aku bersembunyi dibalik piano itu sambil menempelkan telunjuk ke bibirku, memberi isyarat agar dia tidak memberitahukan keberadaanku.Dia mengangguk sebagai tanda mengerti. Lalu dia kembali bermain piano, sebuah nada indah yang aku tahu berjudul Liebestraum No.3 (Dream Of Love)

Dan benar saja, tidak lama kemudian Kang senim lewat dan menanyakan apakah aku ada atau tidak di ruang itu. Rin Ah menggelengkan kepalanya lalu Kang senim kembali berlari mencariku.

“Hah. tahengijwo. Aku pikir aku harus menghabiskan waktu pulang sekolahku di ruangan Kang senim. Aa joneun Oh Se Hun imnida, bangapta. Ini sebagai tanda terimakasihku.” kataku sambil memberikan kue yang baru saja aku buat tadi. “Itu aku buat sendiri. Annyeong.” kataku tersenyum lalu berlari pergi sebelum Kang senim kembali.

Flasback End

Semenjak itu aku sering bertemu dengannya. Dan seiring berjalannya waktu aku mulai menyukainya. Kebaikan, kecerobohannya, semuanya aku suka.

Tiba-tiba aku merasa pundakku berat. Ternyata Rin Ah tertidur di pundakku. Aku membetulkan posisinya agar nyaman lau tersenyum dan mengecup lembut pipinya. Jika kami sudah menikah, aku pasti tidak akan bosan melihatnya tidur. “Jalja.” bisikku di teliganya.

**&**

“Aku pulang.” seruku setelah sampai di apartemenku. Di sini aku tinggal bersama Kyung Soo hyung, Jong In dan Baek Hyun hyung, yang juga bekerja di café Kyung Soo hyung. “Eotte?” tanya mereka serempak begitu tahu aku pulang. “Kalian harus membeli baju baru untuk acara pernikahan kami.” kataku yang langsung disambut pelukan dari teman-temanku.

“Chukae.” kata Baek Hyun hyung sambil tetap memiting leherku. “Wah aku tidak sabar melihatmu memakai baju pengantin.” kata Kyung Soo hyung sambil mengacak rambutku. “Ya, aku juga. Nanti makanannya yang enak ya.”  kata Jong Ing yang di sambut jitakan dari Baek Hyun hyung dan Kyung Soo hyung. Aku tertawa melihat kelakuan mereka.

Tiba-tiba aku merasa kepalaku sakit sekali, seakan mau pecah. “Appo.” lirihku sambil memegang kepalaku, berusaha menahan sakit. “Neo gwenchana?” tanya Baek Hyun hyung khawatir. Rasa sakit itu langsung menghilang sama cepatnya dengan saat datang. “Eung. Mungkin aku kelelahan saja. Aku istirahat dulu hyungdeul. Annyeong” kataku lalu segera masuk ke kamar.

Aku masih memegangi kepalaku. Apa itu tadi? Aku lalu melihat ke arah cermin yang memperlihatkan wajahku yang agak pucat. Mungkin aku memang sedikit lelah, batinku sambil berbaring ke tempat tidur. Tanpa sadar aku melihat foto Rin Ah dan aku disamping tempat tidurku. Aku tersenyum ke arah foto Rin Ah yang juga tersenyum. Aku tidak sabar melihatmu memakai baju pengantin.

**&**

“Oppa, mianhae tentang kelakuan appa tadi.” kata Rin Ah sambil mengaduk vanilla lattenya dengan tidak bersemangat. “Gwenchana. Aku juga pasti begitu kalau anak perempuanku akan menikah.” kataku sambil tertawa.

Kami baru saja pulang dari rumah Rin Ah untuk berbicara pada orang tuanya tentang acara pernikahan kami. Dan seperti dugaanku Rin Ah appa marah-marah sambil menangis. Untung ada Rin Ah omma sehingga pertemuannya menjadi lancar. Sekarang tinggal pertemuan kedua keluarga, meskipun sebenarnya orang tuaku dan orang tua Rin Ah sudah lama saling mengenal.

“Igeot, cinnamon roll pesanan kalian.” kata Baek Hyun hyung sambil meletakan sepiring cinnamon roll. “Gomawo, hyung.” kataku. “Gomawo oppa. Massista.” kata Rin Ah sambil memakan sesuap cinnamon roll. “Baguslah jika kalian suka. Se Hunnie, cinnamon roll.” kata Baek Hyun hyung tersenyum  sambil pergi. Membuat pipiku panas. Aku tahu apa yang dimaksudnya. Dulu saat aku menyatakan cinta pada Rin Ah, aku  memberi cinnamon roll pada Rin Ah.

Flashback

Hari itu aku datang ke sekolah pagi-pagi sekali dengan membawa setumpuk kotak berisi cinnamon roll. Aku tertawa puas saat hampir tidak ada anak di sekolah. Aku segera berlari ke arah loker Rin Ah. Sebelum aku memasukkan salah satu kotak, aku mengambil selembar kertas kecil dari kantongku yang bertuliskan ‘Neo gippeum. Ruang kelas.’. Setelah itu aku meletakan kertas itu di atas kotak cinnamon. Selesai. Sekarang tempat selanjutnya.

Aku lalu pergi ke kelas Rin Ah lalu meletakan di atas mejanya kotak yang sama seperti tadi tapi dengan tulisan berbeda. ‘Neo areumdaun. Taman belakang.’. Aku melakukan hal yang sama di berbagai tempat kenangan kami berdua. Ruang piano, ruang PKK, perpustakaan, dan berakhir di atap sekolah.

Saat sampai di atap sekolah aku menebarkan banyak pesawat kertas beraneka warna. Untung hari ini angin tidak berhembus keras sehingga pesawat kertasku tidak terbang. Setelah puas aku segera berlari kembali ke loker Rin Ah dan bersembunyi untuk melihat Rin Ah.

Dan benar saja. Rin Ah terkejut lalu tersenyum ketika melihat kotak yang ada di lokernya. Bagus, sekarang aku tinggal menunggu di atap. Aku pun berlari menuju atap lalu menunggunya dengan tidak sabar.

Bagaimana kalau dia menolakku? Atau malah menertawakanku? Akh aku jadi takut. Apa aku lebih baik kabur saja sebelum dia datang kesini? Tapi nanti aku malah dibenci. Semua pikiran itu berkelebatan. Lalu aku mulai berlatih agar nanti tidak grogi saat menyatakan cinta. Aku berkali-kali memegang dadaku yang berdetak keras seiring berjalannya waktu.

Dan jantungku berhenti berdetak saat aku mendengar pintu atap berderit teruka. “Sudah aku duga pasti kamu.” katanya sambil tersenyum. “Kamu tahu arti dari cinnamon? Cinnamon artinya ‘sarang’. Jadi kotak itu berarti aku menyukai senyumanmu, aku menyukai kecantikanmu, tapi tidak hanya sebatas itu, aku juga menuliskan banyak hal lain tentang dirimu di pesawat kertas ini. Aku ingin jika kita bersama aku bisa menambah jumlah pesawat kertas ini. Nae yeojachinguga deojulle?”. Akhirnya aku katakan juga.

“Ne. Aku juga ingin menambah pesawat kertas ini dengan berbagai hal tentang dirimu yang aku suka. Jadi kedepannya kita buat pesawat kertas yang banyak, ne?” katanya sambil memberikanku sebuah pesawat kerta berwarna putih. Aku langsung mengakatnya tinggi di langit. “Hari ini, besok, dan selamanya kita pasti selalu bersama, yaksok?”. “Ne, yaksokake.” balasnya sambil tersenyum. “Yee! Waa!” serukuku saat jatuh karena terpeleset salah satu pesawat kertas. “Hahaha. Senjata makan tuan.” kata Rin Ah sambil tersenyum.

Flashback End

Hah.. Kenpa saat itu aku harus jatuh. Membuat kacau rencana saja. “Oppa kamu yakin akan melaksanakannya saat Natal?” tanya Rin Ah membuyarkan lamunanku. “Geureomyeon. Keunde, mungkin tidak bisa pas Natal. Tapi tanggal 23 atau 26 nya.” kataku mejelaskan. “Kalau itu mungkin bisa. Aku tidak sabar mepersiapkan semuanya.” katanya bersemangat. Aku tersenyum melihat kelakuannya.

“A! Aku ingat aku belum mengatakan sesuatu yang penting.” kataku saat teringat sesuatu. “Mwo?” “Mungkin setelah ini kita jarang bertemu karena aku harus mencari uang lebih agar bisa melaksanakan pernikahan. Kita kan sudah sepakat agar tidak mebebani orang tua.” kataku. “Arasseo. Kalau begitu aku juga harus lebih banyak mengambil job.” katanya sambil menyeruput vanilla lattenya. “Tapi kamu jangan sampai sakit.” kataku cemas. Aku tahu sifat Rin Ah yang pekerja keras jadi aku khawatir dia memaksakan dirinya. “Ne ajusshi.” katanya sambil tersenyum menggodaku.

“Keundae, kamu jangan lupa dengan jadwal penting seperti mencoba wedding dress atau melihat gereja ya.” kata Rin Ah galak. “Ne ajeomma.” kataku balas menggodanya. Mungkin karena kami terlalu lama bersama, kami tidak mempermasalahkan jika kami jarang bertemu demi pekerjaan. Aku sungguh beruntung memiliki yeojachingu sepertinya.

**&**

“Besok ya, aku tunggu di depan café, eo? Ne, aku tunggu. Annyeong.” kataku lalu mengecup handphoneku. “Rin Ah ya?” tanya Kyung Soo hyung menggodaku. “Keureomnika, kalau bukan dia siapa lagi?” kataku sedikit kesal. “Besok kalian mau mencoba wedding dress kan?”  kata Jong In sambil tersenyum penuh arti ke arah Baek Hyun hyung. “Tahu darimana?” tanyaku bingung. “Kami kan menguping dari tadi.” kata Baek Hyun hyung. Aku langsung menjitak kepalanya. “Kalian ini suka sekali sih menguping pembicaraan orang.” kataku kesal. Mereka lalu berhamburan keluar dari ruang staff sambil tertawa.

Aku baru berniat mengejar mereka, tapi langkahku berhenti karena mendadak kepalaku seakan mau pecah. “Aaghh.” erangku sambil berpegangan tepi meja agar tidak jatuh. Semenjak hari itu, aku memang semakin sering seperti ini. Tapi kali ini lebih sakit dibandingkan biasanya. “Se Hun, Se Hun gwenchana?” tanya teman-temanku khawatir. “Ne, mungkin hanya kelelahan…” aku tidak bisa menyelesaikan perkataanku karena kepalaku semakin berdenyut, memaksaku untuk menjauh dari kesadaran.

**&**

“Se Hun, ireonna.” kata seseorang di sampingku. Samar aku melihat siluet seseorang, aku lalu berusaha mengumpulkan kesadaranku hingga aku mampu mengenali sosok itu. “Kyung Soo hyung..” kataku lemah. “Ah tahengijwo.” kata Baek Hyun hyung sambil mengelus dadanya.

“I eodiseoyo?” kataku setelah sepenuhnya sadar. “Ini rumah sakit. Tadi kamu pingsan lalu kami membawamu kesini.” kata Jong In menjelaskan. “Kamu kenapa sekarang sering seperti ini?” tanya Kyung Soo hyung. “Mungkin aku terlalu lelah mempersiapkan pernikahan. Itu saja kok.” kataku berusaha agar mereka tidak cemas.

“Hyung, jangan ceritakan kejadian hari ini ke Rin Ah ya. Aku tidak ingin membuatnya khawatir.” kataku. “Tapi..” kata Jong In sebelum terpotong oleh ketukan pintu.

“Sillyehamnida, apa Oh Se Hun-nim sudah sadar?” kata seorang dokter yang masuk ke ruanganku. “A ne.” kataku. “Hmm kalau begitu saya bisa minta waktu sebentar untuk memberitahu kondisi anda?” kata dokter tersebut.

**&**

“Se Hun,”  kata Rin Ah sambil melambai ke arahku. Aku mendekat ke arahnya. “Wah, tidak bertemu sebulan saja kamu sudah berubah semakin dewasa.” katanya sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya. Melihat senyumannya aku kembali teringat perkataan dokter itu.

Flashback

“Kanker otak stadium 3?” kataku terkejut saat dokter itu meberitahu penyakit yang kuderita. “Ya, mungkin sudah 5 tahun ini kanker itu ada di dalam tubuhmu.” jelas dokter itu.

“Apa tidak ada cara untuk menyembuhkan?”

“Sebenarnya bisa dengan jalan operasi, tapi itu pun kemungkinannya hanya 50%. Kemungkinan terburuk adalah kematian.” lanjut dokter itu lagi.

“Jika tidak melakukan operasi, bisa bertahan berapa lama?”

“Mungkin hanya 1 tahun lagi, itupun jika kamu bisa menjaga kesehatanmu.”

Berbagai pikiran berkecamuk diotakku. Kenapa masalah harus datang saat aku ingin berbahagia bersama Rin Ah? Bagaimana jika Rin Ah aku beritahu keadaanku? “Akan saya pikirkan dulu.” kataku pada akhirnya. “Baiklah tapi kalau bisa secepatnya anda memutuskan. Saya khawatir kanker itu akan berkembang tanpa penanganan. Kalau begitu saya permisi dulu.” kata dokter itu lalu pergi meninggalkanku yang masih kebingungan.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Flashback End

“Oppa, oppa.” kata Rin Ah sambil melambaikan tangan di depan wajahku. “Ah ne. Meusum seoriya?” tanyaku yang baru sadar dari lamunanku. “Kita sudah sampai ke boutique. Oppa kenapa melamun saja dari tadi?” tanya Rin Ah kesal. “Mianhae, aku hanya kecapekan saja. Ka, kita segera masuk.” ajakku sambil menarik lengannya.

“Chogiyo, Joneun Oh Se Hun yang 2 hari lalu membuat janji untuk mencoba wedding dress.” kataku di meja resepsionis. “A chakamanyeo, saya periksa dulu.” setelah selesai melakukan administrasi, Rin Ah diajak ke sebuah ruangan untuk mencoba gaun sedangkan aku duduk menunggu Rin Ah selesai.

”Se Hun-nim, Rin Ah agashii sudah siap.” kata pegawai took lalu membuka tirai. Dan aku melihat berdiri di sana dengan dibalut gaun warna putih yang indah. Aku hanya bisa ternganga melihatnya, karena aku tidak pernah melihat Rin Ah secantik ini. “Hya oppa, bagaimana gaunnya, kenapa hanya bengong?” kata Rin Ah sambil berkacak pinggang. “Ani, aku hanya terkejut saja melihatmu secantik ini. Neomu yeppuda. Tapi mungkin kamu pilih gaun yang lebih simple agar tubuhmu tidak terlihat ‘tenggelam’.”  komentarku. “A geureseoyeo? Baiklah aku ganti dulu.” katanya lalu menghilang lagi.

Tidak lama kemudian, Rin-ah sudah berdiri didepanku dengan gaun yang simple tapi elegant. “Eotte?”  tanyanya sambil bergaya didepanku layaknya seorang model. Aku tertawa sambil mengacungkan kedua ibu jariku.

Sekarang gilranku yang mencoba pakaian sedangkan Rin Ah menunggu. Aku lebih cepat karena hanya tinggal memakai baju pasangan Rin Ah. “Eotte?” tanyaku sambil membetulkan letak sarung tanganku. “Jeongmal yeppuda.” katanya sambil bertepuk tangan membuatku malu.

“Baiklah kami ambil yang ini.” kataku. Tiba-tiba Rin Ah tersenyum lalu membisikkan sesuatu pada pegawai toko. Pegawai itu tersenyum sambil mengangguk lalu Rin Ah menyerahkan handphonenya lalu kembali kepadaku. “Wae?” tanyaku. “Aish sudahlah ikuti saja aku.” katanya sambil mengalungkan lengannya ke lenganku dan menunjuk kerah depan. “Siap? Hana, dul, set.” kata pegawai itu lalu memotret kami berdua. “Kamsahamnida.” kata kami berdua sambil membungkuk ke pegawai itu.

“Wah hasilnya bagus. Oppa pinjam handphonemu. Aku mau mengirimkan fotonya.” kata Rin Ah sambil mengambil handphoneku. “Andai saja hari ini kita mengadakan pernikahan sebenarnya, aku pasti senang sekali.” kata Rin Ah sambil mengirimkan gambar ke handphoneku. “Kamu serius mau menikah denganku? Bagaimana pun keadaanku?” tanyaku padanya. “Keureomyeon. Aneh-aneh saja pertanyaanmu. Kamu tahu kan aku paling tidak suka setengah-setengah. Jadi aku pasti akan menjalaninya hingga akhir.” katanya sambil mengembalikan handphone kepadaku. “Kalau begitu akhir minggu nanti datang ke caféku. Aku akan memberikan surprise.” kataku sambil memeluk pinggangnya. “Mau memberi surpise, pertanyaannya harus aneh dulu ya?” katanya kesal. “Aku hanya ingin  melihat wajah kesalmu saja.” kataku sambil tersenyum. Dia membalas senyumanku, lau aku pun mendekatkan bibirku ke bibirnya.

Benar kata Rin Ah. Aku harus berjuang hingga akhir. Mungkin saja aku akan menemui akhir yang bahagia.

**&**

“Dia datang.” kata Jong In sambil berlari ke balik bar. Aku merapikan pakaianku. Hari ini café tutup lebih awal khusus untuk surprise ini. Ruangan café telah kusulap penuh bunga, balon dan pesawat kertas. Semua meja telah disingkirkan, hanya menyisakan 1 meja dengan 2 bangku serta sebuah piano didepannya.

“Aku matikan lampunya.” kata Baek Hyun hyung sambil mematikan lampu membuatku tertutup kegelapan. Aku sempat berpikir, apa seperti ini jika aku meninggal? Gelap dan hanya ada aku sendirian. Tapi kemudian pintu terbuka membawa seberkas cahaya masuk. Aku bisa melihat Rin Ah berdiri di depan pintu. Aku tersenyum. Ya aku masih memiliki cahayaku sendiri, Rin Ah.

“Agashii, malam ini aku akan menunjukan kepadamu apa yang ada di dalam hatiku.”  kataku sambil memberi isyarat agar Baek Hyun hyung menyalakan lampunya. Lampu pun menyala dan aku dapat melihat wajah terkejut Rin Ah.

“Kyeopta, kapan kamu menyiapkan semuanya?” kata Rin Ah sambil memandang kesuluruh ruangan. “Rahasia. Darawa.” kataku sambil menggandeng dan mendudukannya ke kursi. “Chakaman, aku ambilkan sebuah hidangan special khusus buatanku.” kataku lalu menghilang ke dapur.

“Hyungdeul sekarang boleh pulang kok. Nanti aku yang membereskan.” bisikku sambil mendorong mereka keluar melalui pintu belakang. “Ayolah, kami hanya melihat saja kok, tidak akan mengganggu.” kata Kyung Soo hyung. “Sudahlah. Hyungdeul hari ini kan lelah, jadi cepat pulang saja.” lanjutku sambil segera menutup pintu. “Nah, pengganggu beres, tinggal mengambil cakenya.” kataku lalu mengeluarkan sebuah cake dari lemari es.

“Mianhae menunggu, ini cake yang kubuat khusus untukmu. Tiramisu.” kataku sambil meletakan cake diatas meja. “Wah neomu kyeopta.” kata Rin Ah sambil mengamati kue itu. “Nah sekarang kita potong.” kataku sambil mengambil pisau.

“Rin Ah jika aku pergi dan tidak pernah ada disampingmu lagi, bagaimana perasaanmu?” kataku sambil memotong kue itu. “Kamu mau pergi meninggalkanku?” tanyanya dengan wajah khawatir. “Ani keuge anigu , hanya bertanya saja.”

“Aku pasti sangat sedih. Bagiku kamu sudah seperti udara bagiku. Selalu ada disampingku, memberiku kebahagian dan kehangatan. Jika kamu pergi, aku merasa seperti tidak memiliki udara lagi. Dan kamu tahu kan jika mausia tidak memiliki udara yang dihirup. Karena itu, kajima, ne?” katanya sambil menggengam tanganku. “Keureom. Nah sambil menikmati cakenya, aku akan memainkan sebuah lagu.” kataku lalu beranjak ke piano.

Jari-jariku mulai memainkan nada-nada dari lagu Liebestraum No.3. Hanya ada suara permainan pianoku, diiringi dengan hembusan angin musim gugur. Aku mencoba mengingat apa saja yang terjadi selama bersama dengan Rin Ah. Awal pertemuan kami, senyumannya saat aku menyatakan cinta, kencan pertama kami, hingga saat aku memintanya untuk selalu bersamaku. Semua begitu indah bagiku. Seakan semuanya adalah mimpi indah yang hanya untukku seorang. Aku pasti tidak akan pernah melupakan semuanya. Semua yang ada pada Rin Ah dan semua yang telah terjadi. Aku pasti selalu menyimpannya dalam hatiku. Apa pun yang terjadi pada diriku, aku pasti mengingatnya.

“Wah daebak.” kata Rin Ah sambil bertepuk tangan. “Aku merasa hari hari yang aku lewati bersamamu itu indah. Terlalu indah untuk kepercayai sebagai kenyataan. Tapi aku yakin tidak lama lagi kebahagian itu akan menjadi nyata dan kita pasti selalu bersama selamanya.” kataku sambil memeluknya dari belakang.

Semua ini hanyalah mimpi, dan aku pasti akan bangun untuk mendapatkan kebahagianku yang sebenarnya.

**&**

“Se Hunnie, kamu benar tidak memberitahu Rin Ah tentang ini?” tanya Kyung Soo hyung saat aku dibawa ke ruang operasi. “Ya aku tidak ingin dia khawatir. Lagipula dia sudah memakan tiramisu buatanku. Hyung tahu kan arti tiramisu?” jawabku sambil tersenyum.

Aku memutuskan untuk menjalani operasi. Dengan begini aku tidak akan menyesal, walaupun nanti mungkin aku tidak akan melihat Rin Ah lagi. “Hyungdeul jaga Rin Ah ya. Meskipun aku tidak ada, tapi aku tenang jika ada hyungdeul di samping Rin Ah.” kataku lagi. “Pasti kami akan menjaganya. Sudah jangan bicara yang aneh-aneh. Sekarang kamu harus berjuang ne.” kata Kyung Soo hyung lalu aku pun memasuki ruang operasi.

Saat kesadaranku mulai menghilang karena pengaruh obat bius, aku kembali teringat saat Rin Ah memasuki café dengan membawa seberkas cahaya. Aku tidak boleh takut, karena aku yakin jika aku membuka mata nanti Rin Ah pasti ada disampingku dan kita bisa bersama selamanya.

**&**

Rin Ah POV

Aku melihat ke arah handphoneku. Masih tidak ada pesan ataupun telepon dari Se Hun. Perasaanku menjadi tidak enak. Apa karena aku tidak berbicara dengan Se Hun 1 minggu ini/

Tiba-tiba aku merasa handphoneku bergetar. Aku sedikit kecewa saat mengetahui bahwa itu bukan Se Hun melainkan ommanya. “Yeobseyo. Ne omma?” tanyaku. “Ne?” kataku lagi. Tidak percaya dengan apa yang kudengar. “Bohong..” lirihku sambil terpuruk dilantai. Hal terburuk yang tidak pernah kubayangkan datang begitu saja.

Se Hun sudah tidak ada didunia ini lagi.

**&**

Aku berdiri diam di depan sebuah makam. Dinginnya salju yang turun tidak mampu membekukan air mataku. Tetesan air mata tetap jatuh di atas salju seiring waktu berjalan

“Oppa, hari ini hari Natal. Hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi kita berdua. Tapi kamu malah pergi begitu saja.” kataku dengan nada bergetar. Air mataku pun mengalir lebih keras, hingga kakiku tidak mampu menahan lagi dan jatuh terpuruk di depan makam itu.

”Oppa, kamu kejam. Kenapa kamu pergi begitu saja? Masih banyak hal yang ingin kukatakan, tapi kamu malah meninggalkanku sendiri. Kamu tidak tahu bagaimana aku melewati hari-hari setelah kepergianmu. Padahal kamu berjanji akan selalu bersamaku. Tapi sekarang kamu membuat hari-hariku seperti tanpa kehidupan lagi. Kalau begini lebih baik aku ikut bersamamu saja.” tangisku sambil memukuli pelan batu nisan Se Hun.

”Rin Ah?” tanya seseorang dari belakangku yang ternyata adalah Kyung Soo oppa. “A mianhae oppa malah melihatku seperti ini.” kataku sambil menghapus air mataku dan berusaha mengumpulkan kembali kekuatanku.

“Sudah aku duga kamu disini. Tadi aku ke apartemenmu untuk menyerahkan ini, tapi ternyata kamu tidak ada. Igeot. Kemarin saat aku membersihkan kamar Se Hun aku menemukannya di bawah fotomu. Sepertinya itu untukmu.” kata Kyung Soo oppa sambil menyerahkan sebuah surat ke padaku.

Nae saranga, Rin Ah

Mianhae aku tidak memberitahumu tentang penyakitku sebelumnya. Aku tidak ingin kamu menjadi khawatir dan sedih karena aku.

Aku terkejut saat aku tahu bahwa di otakku ada sel kanker. Awalnya aku bingung apa yang harus aku lakukan, tapi karena kamu aku yakin bahwa aku harus berusaha agar kebahagian kita menjadi nyata.

Padahal kita akan bahagia selamanya, tapi sepertinya kebahgaian itu tidak akan pernah  menjadi nyata bagiku. Aku akan pergi ke sebuah tempat yang jauh dan aku tidak mungkin membawamu.

Tapi kamu tidak perlu khawatir karena aku akan behagia di sana. Hari-hari yang kulewati bersamamu bagaikan mimpi indah dan sekarang aku bahagia karena aku tidak akan pernah terbangun dari mimpi itu.

Yang sekarang kuinginkan adalah agar kamu bahagia. Kamu harus lebih bahagia dari sekarang karena kamu akan berbahagia untuk kebahagianku juga. Kamu harus berjanji padaku untuk bahagia, arachi?

Uljimma. Kamu harus kuat dan tidak boleh menangis karena kamu sudah memakan tiramisu buatanku.Sekarang aku harus pergi. Selamat tinggal, nyonya Oh-ku.

                -Oh Se Hun-

                Tanganku bergetar saat mebaca surat itu. Aku sudah tidak mampu lagi membacanya karena air mata sudah menggenangi mataku. “Pabo. Mana mungkin aku bisa bahagia. Kamu adalah kebahagianku, jika kamu pergi berarti aku tak akan pernah bahagia.” isakku.

“Rin Ah-a, kamu tahu arti dari tiramisu?” tanya Kyung Soo oppa. Aku hanya menggelengkan kepala. “Tiramisu berarti…”

“…izinkan aku pergi ke surga.”

CHOROP

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s