A Bouquet

a-bouquet

Title                       : A Bouquet

Author                  : Kim Na Na

Genre                   : Romance, brothership, friendship

Length                  : Vignette

Main Cast            : Oh Se Hun, Park Chan Yeol, Byun Baek Hyun, Xi Lu Han, Kim Jong In, Wu Yi Fan

Other Cast          : Seo Rin Ah, Han Eun Ji, Seo Yeon Na (all OC)

Rating                   : PG-13

Seikat kecil bunga yang berisi harapan.

kenangan dan juga penyesalan

                Se Hun POV

Aku menatap lurus sebuah pintu kamar rumah sakit sambil menggenggam sebuah buket. Mungkin tidak menatap pintu itu karena aku memikirkan seseorang yang ada di balik pintu itu.

Hari ini aku datang menjenguk untuk pertama kalinya sambil membawa bunga kesukaannya. Meskipun ini bunga kesukaannya, aku tidak yakin dia mau menerimannya. Sama seperti dia tidak mungkin menerima permintaan maafku. Mana mungkin dia memaafkanku setelah aku menghancurkan keinginannya.

Aku mempererat genggamanku saat mengingat kebodohanku beberapa hari yang lalu. Kenapa aku bisa berbuat seperti itu.

Flash Back

Aku melihatnya sedang asyik membaca buku yang mungkin tebalnya hampir sama dengan batu bata. Sudah hampir 1 bulan ini dia hanya asyik berkutat dengan buku-buku itu dan menelantarkan aku, sahabatnya sejak kecil.

“Hya Rin Ah!” seruku sambil menepuk pundaknya dari belakang, membuatnya terkejut. “Se Hun jangan membuatku kaget!” serunya kesal tapi kembali membaca buku itu.Huh, padahal aku pikir kita bisa mengobrol.

“Hei, mau ke kantin? Ayo beli pudding kesukaan kita.” kataku sambil menyandarkan daguku di tumpukan bukunya yang tebal itu. “Nanti saja. Masih banyak yang masih harus aku hapal.” katanya tanpa menatapku. Aku menjadi kesal dan segera menyambar buku yang dia baca.

“Ayolah, kan masih 1 minggu lagi perlombaannya.”. kataku kesal. “Karena tinggal 1 minggu lagi itu maka aku harus belajar. Cepat kembalikkan bukuku.” katanya sambil mengulurkan tangan.

Bukannya mengembalikkan, aku malah mengangkatnya tinggi tinggi dan menjulurkan lidah ke arah Rin Ah. “Hya! Oh Se Hun kembalikkan bukuku!” seru Rin Ah sambil mengejarku yang keluar kelas.

Tentu saja saat aku berlari menuruni tangga, Rin Ah juga mengejarku menuruni tangga. Tapi sial, Rin Ah malah terpeleset dan jatuh dengan kepala berdarah tepat disampingku yang sudah ada di akhir anak tangga. “Rin Ah!!” seruku  terkejut dan langsung membawanya ke rumah sakit.

Flash Back End

Nyawa Rin Ah tertolong, tapi dia perlu di rawat di rumah sakit selama 2 minggu karena tangannya yang patah dan juga memastikan kesehatannya pulih kembali. Tentu saja dia tidak bisa mengikuti perlombaan. Padahal dia sudah sangat ingin ikut lomba itu sejak kami masuk SMA.

Aku menghela napas dan berbalik berniat membuang bunga itu. Tapi aku melihat seorang namja berjalan melewatiku. “Chogio, kalau kau mau kamu boleh mengambil bunga ini.” kataku seraya mengulurkan buketku ke arahnya.

“Kamu memberiku?” katanya tidak percaya sambil menunjuk dirinya sendiri. “Ne, kalau tidak mau aku buang saja.” kataku sambil bersiap membuang bunga itu ke tempat sampah. “Andwe! Baiklah aku ambil. Kamsahamnida.” katanya sambil menundukkan kepala lalu berjalan pergi sambil sedikt bingung.

Aku kembali menatap pintu kamar itu. Rin Ah, jeongmal mianhae.

Chan Yeol POV

Hahahaha baru kali ini aku mendapat bunga dari seorang namja. Dasar anak SMA, apa dia tidak tahu harga buket ini mahal. Tapi tidak apalah,mungkin suasana hati Baek Hyun bisa berubah setelah melihat bunga ini.

“Baekki hyung, aku masuk.” kataku setelah mengetuk pintu. Ternyata Baek Hyun sedang melihat ke luar jendela. Tapi dari matanya aku tahu dia memikirkan sesuatu. “Aku taruh bunganya disini ya.” kataku sambil meletakan buket bunga disamping tempat tidurnya. “Bunganya indah.” kata Baek Hyun sambil mengamati buket itu.

“Hehehehe, bagaimana keadaan hyung hari ini?” tanyaku sambil melihat kakinya yang digips. Sebulan yang lalu Baek Hyun terluka saat berlatih dance hingga kakinya harus digips dan juga pinggangnya yang terluka perlu diberi perawatan. “Besok gipsku akan dibuka.” katanya tanpa semangat. “Tahaengijwo. Besok aku harus datang untuk melihat hyung.” kataku riang sambil menepuk pundaknya. Dia hanya tersenyum kecil lalu kembali tanpa semangat.

“Yeollie, aku ini payah ya. 2 kali gagal dalam audisi dan sekarang harus kehilangan kesempatan lagi karena kecelakaan ini. Apa aku berhenti saja mengikuti audisi-audisi itu.?” katanya sambil menatap kosong pemandangan di luar jendela.

“Hyung, berarti hyung menghinaku dengan mengatakan aku lebih payah dibandingkan hyung. Aku sudah gagal lebih dari 5 kali tapi aku tetap semangat. Aku selalu berpikir bahwa mereka hanya belum melihat sinarku saja, karena itu aku harus berlatih lebih keras agar mereka melihatku. Hyung juga harus berpikiir seperti itu.” kataku sambil menatap matanya.

“Benar juga ya, kita kan harus berdiri jika jatuh.  Gomawo Yeollie, kamu memang temanku. Yeollie kamu mau berlatih  denganku setelah aku keluar dari sini?” tanya Baek Hyun. “Geureomyeon.” kataku semangat dan tersenyum. Tiba-tiba kami mendengar ketukan pintu. ternyata dokter bertag namakan Xi Lu Han masuk sambil tersenyum.

“Bagaimana keadaanmu hari ini? Akan aku periksa ya.” katanya lalu memeriksa Baek Hyun. “Tidak ada masalah, besok gipsmu bisa dilepas dan bisa segera pulang dalam minggu ini.” katanya sambil tersenyum. “Kamsahamnida,dokter.” kata kami serempak.

“Kalau begitu saya permisi dulu.” katanya sambil bersiap pergi. “A chakaman. Ini untuk dokter. Terima kasih karena merawatku selama satu bulan ini.” kata Baek Hyun sambil menundukkan kepala. “Waa gomawo. Semoga kamu bisa cepat menjadi artis ya.” kata dokter itu sambil menepuk pundak Baek Hyun dan tersenyum.  Tapi aku bisa melihat kesedihan terlintas di matanya walau hanya sekejap.

“Yeollie, tidak apa-apa jika aku memberikan bungannya?” tanya Baek Hyun setelah dokter itu meninggalkan kami. “Ani, lagi pula aku juga mendapatkannya dari seorang murid SMA di lantai bawah. Dia mau membuangnya, jadi lebih baik aku ambil.” kataku ringan.

Lagipula tugas bunga itu juga sudah selesai, batinku sambil tersenyum.

 

Lu Han POV

Aku berjalan menuju ke taman belakang rumah sakit. Aku duduk di bangku lalu memandang buket bunga yang aku pegang. “Eun Ji-a, hari ini aku membawa bunga kesukaanmu, apa kamu suka?” tanyaku lirih pada udara kosong.

Tidak ada jawaban yang aku terima. Hanya ada angin yang berhembus pelan. Membawa semua ingatanku akan yeojachinguku yang sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Tanpa sadar air mata mulai menuruni pipiku. “Eun Ji-a, bogoshipoyo, jeongmal bogoshipoyo.” isakku sambil menundukkan kepala dan menggenggam erat buket itu. “Dokter menangis?” tanya seseorang disampingku. Aku terkejut dan langsung mengangkat kepalaku untuk melihat orang itu.

Ternyata seorang namja berkulit gelap yang tadi mengatakannya. “Ani, aku tidak apa-apa kok.” kataku sambil segera menghapus air mataku. Aku tidak ingin terlihat menangis oleh anak yang sepertinya masih SMA itu.

“Kata eomma jika kita sedih kita harus membagi kesedihan itu dan jika kita bahagia kita harus melipat gandakan kebahagiaan itu.” katanya sambil tersenyum. Aku sedikit terdiam lalu tersenyum. “Baiklah kalau memang mau mendengarkan ceritaku.” kataku sambil tersenyum.

“Dulu aku memiliki yeojachingu. Dia menderita sebuah penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Aku berusaha untuk dapat menyembuhkannya. Tapi semakin hari ia semakin lemah dan akhirnya pergi. Dia pasti sangat membenciku karena aku tidak bisa menyembuhkannya, padahal aku sudah berjanji kepadanya. Andai saja aku bisa mengatakan maaf padanya sekali saja…” kataku sambil menatap langit.

“Akh aku iri dengannya.” seru anak itu sambil berdiri dan memasukkan tangannya ke dalam kantung jaket. “Hingga dia meninggal pun, masih ada orang yang mencintainya. Tapi aku pikir dia sekarang mungkin sedang sedih karena melihat dokter yang selalu menyalahkan diri sendiri. Dokter harus berhenti menyalahkan diri sendiri agar dia bahagia. Aku yakin dia tidak mungkin membenci dokter karena dia tahu dokter sudah berusaha. Dokter selalu ada disampingnya hingga dia meninggal, itu sudah cukup membuatnya bahagia.” lanjutnya sambil ikut memandang langit biru musim panas.

Aku merenung sejenak sambil memandang langit. Apa benar kamu berpikir seperti itu Eun Ji? Seakan mendapat jawaban, sebuah senyum muncul dibibirku. “Kau benar, gomawo…” kataku bingung karena bahkan aku tidak tahu nama anak ini.

“Aaah Kim Jong In imnida.” katanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya yang diperban. “Tanganmu?” tanyaku. “Ah hanya jatuh waktu bermain basket, gwenchasumnida.” katanya berusaha membuatku tidak khawatir.

Tiba-tiba aku mendengar suara dering handphone. “Ah mianhae, hyungku menelepon, chakaman.” katanya lalu mengangkat telepon itu. “Mwo hyung ada di kamarku sekarang?! Baiklah aku akan ke sana. Dokter, mianhae aku harus pergi, hyung sedang menungguku.” katanya.

“Baiklah. Ini untukmu. Gomawo mau mendengarkan ceritaku. Aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Semoga kamu cepat sembuh.” kataku sambil mengulurkan buket yang aku pegang. “Waah gomawo dokter. Semoga kita bertemu lagi. Annyeong.” katanya sambil membungkukan badan lalu berlari pergi.

Tidak kusangka aku mendengar jawaban itu dari seorang anak SMA. Eun Ji-a mianhae membuatmu sedih. Mulai sekarang aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri. Jadi kamu juga jangan sedih lagi. Kamu harus selalu bahagia di sana.

 

Jong In POV

Aku masuk ke kamarku dan melihat kakakku sudah berdiri marah di balik pintu. “Berani benar orang yang sakit malah berkeliaran keluar kamar hah?!” teriaknya marah di depan wajahku. “Kris tenanglah. Ini rumah sakit.” kata Yeon Na noona, istri kakakku.

“Hyung aku mau tidur. Aku capek hari ini.”  kataku sambil berjalan melewatinya dan meletakan bunga di samping tempat tidurku. “Hya! Kamu tidak tahu apa aku segera kembali dari Guam begitu mendengar bahwa kamu mengalami kecelakaan! Sekarang kamu malah tidur.” serunya kesal.

“Siapa juga yang memintamu datang?” tanyaku menyindirnya. Sebenarnya aku sengaja jatuh saat sedang bermain basket untuk membuat kakakku khawatir sehingga acara honeymoonnya gagal. Hahahaa aku senang rencanaku berhasil.

Aku kesal kepadanya karena sejak dia bertunangan satu tahun yang lalu, dia semakin jarang bermain denganku. Bahkan  setelah menikah, dia malah tidak pernah menghunbungiku lagi. Biar dia tahu rasa sekarang.

“Hya! Mana ada kakak yang tidak khawatir mendengar adiknya mengalami kecelakaan.” seru Kris hyung lalu cepat-cepat membuang mukanya dan menatap keluar jendela dengan telinga merah.

“Jong Innie, kamu tahu, selama perjalanan dari Guam menuju ke sini, Kris menangis terus. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Dia takut kamu terluka parah dan dia tidak akan pernah bisa melihatmu lagi.” kata Yeon Na noona sambil menatapku.

“Hyung menangis?” kataku heran sambil melihat ke arah Kris hyung. Aku tahu Kris hyung bukan tipe yang mudah menangis. “Lihat sekarang dia mulai menangis lagi karena lega melihatmu tidak apa-apa. “ kata Yeon Na eonnie sambil menunjuk Kris hyung. Dan benar, aku bisa melihat air mata mengalir di pipinya.

“Pabbo, mana mungkin orang meninggal hanya karena terluka saat bermain basket.” kataku sambil menundukkan kepala menahan air mata yang siap mengalir. “Mana aku tahu kalau ternyata kamu hanya jatuh saat bermain basket. Yang aku tahu hanyalah adikku satu-satunya sedang kesakitan.” kata Kris hyung kesal tapi aku bisa mendengar suaranya bergetar

“Mianhae membuat hyung khawatir.” isakku. Aku benar-benar bodoh mengira Kris hyung sudah tidak menyayangiku lagi. Dia selalu menjadi kakak yang paling menyayangiku. “Aku sudah senang melihatmu tidak apa-apa.” katanya sambil memelukku.

“Hyung, noona, mainhae membuat rencana honeymoon kalian berantakan.” kataku sambil menundukkan kepala. “Tidak apa-apa lagipula dengan begini kita bisa honeymoon 2 kali.” kata Yeon Na noona sambil tersenyum.

Aku melihat ke arah buket bunga yang tadi aku bawa. Aku mengambilnya lalu mengulurkannya kepada Kris Hyung dan Yeon Na noona. “Hyung noona aku mendoakan kebahagian kalian. Sekarang aku tahu meskipun kalian tidak selalu bersamaku, tapi kalian akan selalu menyayangiku.”

 

Kris POV

Aku menutup pintu kamar Jong In. Dasar, ada-ada saja anak itu. Tapi syukurlah dia tidak apa-apa. “Kris, kita ke kamar 402 dulu ya. Adik sepupuku dirawat di sini juga.” kata Yeon Na saat kami berjalan menyusuri koridor rumah sakit

“Wae?” tanyaku khawatir. “Jatuh dari tangga sekolah. Tapi sekarang dia baik-baik saja kok.” kata Yeon Na saat melihat wajah khawatirku. “Dasar kenapa adik itu selalu membuat kakanya khawatir sih?” kataku kesal.

“Mungkin kalau Jong In karena dia kesepian. Selama ini kamu selalu menemaninya bermain. Tapi sudah setahun kalian jarang bersama lagi karena kamu lebih sering bertemu denganku.” kata Yeon Na sambil tersenyum kecil.

“Tapi dia bukan anak kecil yang harus selalu kuajak bermain.” elakku. “Meskipun dia sudah tumbuh dewasa, dia tetap adikmu kan?” kata Yeon Na.

Benar juga, bagiku dia selalu menjadi Jong In kecilku.“Mungkin aku akan mengajaknya bermain setiap akhir minggu.” kataku pada akhirnya.

“Se Hun, kenapa kamu di sini?” seru Yeon Na saat kami tiba di depan kamar adik sepupu Yeon Na. “Nugu?” bisikku. “Teman sejak kecil adikku.” jawab Yeon Na pelan.Aku mengangguk mengerti. “Kamu tidak masuk?” tanyaku.

Dia hanya menggelengkan kepala. “Rin Ah pasti tidak mau bertemu denganku. Aku yang menyebabkan dia jatuh dan karena aku juga dia tidak bisa mengikuti perlombaan yang dia inginkan.” katanya sambil tertunduk.

“Tapi kamu menyesal kan?” tanyaku. Dia mengangguk. “Aku ingin meminta maaf kepadanya tapi dia pasti tidak akan memaafkanku.” katanya. “Jika belum dicoba, kamu tidak akan tahu. Dia belum mendengar perminta maafanmu, jadi kamu tidak boleh berpikir seperti itu.” kataku sambil menepuk kepalanya.

“Benar, lagipula Rin Ah akan lebih sedih lagi jika melihatmu tidak menjenguknya. Kamu mau Rin Ah jadi benar-benar membencimu?” tanya Yeon Na. “Ani, aku ingin Rin Ah selalu bersamaku. Tapi bagaimana kalau dia benar-benar marah kepadaku?” tanyanya.

“Sudahlah, kamu harus memintaa maaf dengan tulus dulu baru berpikir yang tidak-tidak.” kataku sambil memberi buket bungaku. Dia tersenyum lalu berkata “Hyung, noona gomawo.” dan segera berlari masuk ke kamar yang bertuliskan 402.

“Sepertinya kita tidak bisa menjenguknya sekarang.” kataku pada Yeon Na sambil tersenyum. “Lebih baik kita pulang saja, akh aku jadi ingat saat SMA kita.” kata Yeon Na sambil menggandengku pergi.

 

Se Hun POV

Aku berjalan pelan mendekati Rin Ah yang sedang tertidur. Kepalanya dan tangannya diperban. Rasanya dadaku sakit melihat Rin Ah seperti ini, terlebih ini semua karena aku.

“Rin Ah mianhae, jeongmal mianhae. Andai saja saat itu aku tidak egois, kamu tidak akan seperti ini. Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak membeciku sekarang?” kataku sambil menundukkan kepala.

“Jangan pernah mengerjaiku lagi.” kata seseorang yang sangat aku kenal suaranya. “Rin Ah, kamu bangun?” kataku terkejut karena ternyata dari tadi dia bangun. “Kalau aku bangun, aku yakin kamu tidak akan mengatakan hal tadi. Gwenchana, lagipula aku tidak siap mengikuti lomba itu, dan juga masih ada perlombaan tahun depan. Tapi aku masih marah kepadamu karena membuatku menunggu berhari-hari.” katanya dengan raut wajah kesal.

“Kamu boleh memintaku melakukan apa pun. Asal itu membuatmu tidak lagi marah kepadaku.” kataku cepat-cepat . “Baiklah. Siap ya….” katanya sambil  mengangkat tangannya yang terkepal. Aku sudah menutup mataku dan tiba-tiba aku merasakan sebuah pukulan kecil mendarat di pundakku.

“Nah sekarang kita impas.” katanya tersenyum puas. Air mata langsung menuruni pipiku. Aku sudah membuatnya seperti ini, tapi dia tidak marah sama sekali kepadaku. “Mianhae…” kataku sambil menunduk menutup mata dengan lenganku. “Uljimma, dasar cengeng.” katanya sambil menepuk -nepuk pundakku.

“Itu bunga untukku?” tanyanya sambil menunjuk buket bunga yang aku bawa. “A ne, igeot.” kataku sesenggukan sambil menyerahkan buket bunga itu.  “’Jeongmal mianhae Rin Ah” wah bahkan kamu sampai menyiapkan kartu permintaan maaf.” katanya sambil mengamati kartu yang terselip diantara rangkaian bunga.

Aku terkejut. Itu berarti buket bunga ini adalah buket bungaku yang aku berikan kepada seorang namja yang lewat tadi? Kenapa bisa sampai di tangan Yeon Na noona? Aku lalu tersenyum.  “Wae?” tanya Rin Ah. “Ani, aku punya cerita menarik.” kataku bersiap menceritakan tentang bunga itu.

Akhirnya bunga itu pun kembali

Tapi sekarang dia lebih berharga

karena berisi perasaan dari banyak orang

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s