Lovey Dovey

Lovey Dovey

Title                       : Lovey Dovey

Author                  : Kim Na Na

Length                  : Draable

Cast                       : Xi Lu Han, Park Rin Ah

Genre                   : Fluff, Romance

Rating                   : PG-15

Rin Ah Ver.

Sebuah nada riang mengusik mimpiku yang indah. Aku berusaha menahan suara itu dengan membenamkan wajah ke bantal lebih dalam. Tapi suara itu semakin keras dan memaksaku untuk bangun. Akhirnya dengan malas aku duduk di tempat tidur dan mematikan alarmku.

“Eung….” kataku sambil merenggangkan badan. Aku lalu turun dari tempat tidur dan mebuka tirai kamarku. Membiarkan matahari musim semi melewati jendelaku. “Sunbae, selamat pagi. Doakan agar hari ini aku beruntung.” gumamku sambil mencium foto seorang namja yang kuletakan di meja dekat jendela.

Lu Han sunbae. Sunbae yang sudah lama aku kagumi sejak aku pertama kali aku masuk ke universitasku. Di mataku dia terlihat sangat sempurna. Tampan, pandai, tetapi cool. Aku heran ketika tidak ada satu pun yeoja yang menyukainya. Biarlah, itu berarti kesempatanku semakin besar, batinku sambil tersenyum dan mendekap foto Lu Han sunbae yang kudapat secara diam-diam.

“Akh gawat! Sudah jam 6.45 padahal aku ada kelas jam 8.” seruku sambil berlari ke kamar mandi. Jam setengah 8 aku sudah selesai bersiap-siap dan berdandan. “Kira-kira sunbae suka tidak ya dengan bajuku. Aduh aku kemarin lembur hingga jam 1 malam. Semoga wajahku tidak kusam.” gumamku sambil mengecek penampilanku di cermin.

Aku melihat ke arah jam. “Gawat 20 menit lagi!” seruku. “Sunbae, aku berangkat dulu. Semoga nanti kita bertemu.” kataku lalu mencium foto Lu Han sunbae sekali lagi sebelum keluar dari apartemenku. Untung jarak apartemnku dan kampus cukup dekat. Hanya berjalan kaki 10 menit saja aku sudah bisa melihat gerbang kampusku.

Tempat yang pertama kali aku datanagi tentu saja toilet untuk mengecek penampilanku sekali lagi. Hatiku berdegup kencang. Apa hari ini aku bisa bertemu dengannya? Apa hari ini aku bisa berbicara dengannya? Dan hatiku berdegup lebih kencang lagi hanya karena memikirkan hal itu.

Aku menghela napas lalu berjalan keluar dari toilet. Saat aku melihat ke arah pintu masuk, ternyata Lu Han sunbae baru saja datang dan sekarang dia berjalan mendekat ke arahku. Dengan baju casual dia membawa tas ranselnya di satu bahu sedangkan tangan lainnya membenarkan posisi earphone lalu ia masukan ke saku jeansnya. Kyaaaaa! Wajahku pasti sudah merah sekarang.

Aku harus bisa menyapanya hari ini. Saat dia lewat di depanku aku segera menyapanya. “Selamat pagi, sunbae.” kataku sambil berusaha tersenyum semanis mungkin. “Ne.” jawabnya sambil tersenyum kecil ke arahku. Senyum yang sanggup membuatku tidak bisa memikirkan satu pun hal lain.

“Rin Ah-a. Ayo cepat masuk!” seru temanku, membuyarkan lamunaku.” Ne!” seruku sambil berlari ke arah kelasku. Aku sempat melirik ke arah Lu Han sunbae. Ternyata dia duduk tepat di depan pintu kaca kelasku. Hari ini aku beruntung sekali, batinku semangat.

Selama 1 jam dosen mengajar, tidak ada satupun yang masuk di dalam otakku. Aku sibuk mengamati Lu Han sunbae yang sibuk mengutak-atik laptopnya sambil sesekali menerawang ke arah lapangan. Wajahnya yang tertimpa matahari musim semi, sosoknya yang duduk di bawah pohon bunga mae yang berguguran sungguh indah.

Haah, andai saja aku bisa duduk di sampingnya, aku pasti akan sangat senang. Tidak lama beberapa temannya datang dan menghalangi pandanganku. Akkh ayo kalian cepat pergi, aku ingin melihatnya lagi. Ternyata harapanku terkabul, tapi Lu Han sunbae juga ikut berdiri. Andwe! Aku masih ingin melihat sunbae lebih lama lagi! teriakku dalam hati.

Ternyata mereka turun ke lapangan dan bermain sepak bola. Kyaaa!! Rasanya aku ingin segera keluar dari ruang kelas lalu segera menyemangatinya. Tapi tidak mungkin, aku terlalu malu untuk melakukan hal itu.

Hingga setengah jam kedepan aku melihatnya bermain sepak bola. Wajahnya yang bersemangat, senyumannya setiap kali dia berhasil memasukkan bola, atau pun cara dia menyeka keringat yang ada di wajahnya, semuanya sanggup membuatku tersenyum. Aku merebahkan kepalaku di meja dan menatapnya sambil tersenyum.

“Rin Ah-a, kamu tidak keluar? Kelas sudah selesai.” kata temanku sambil mengetuk meja agar aku tersadar. “Ah mian, Kajja.” kataku sambil menggandeng tangannya keluar kelas. Lu Han sunbae juga sudah selesai bermain dan sekarang sedang bercanda dengan teman-temannya di seberang lapangan.

Jarak itu yang membuatku tersadar bahwa aku masih sangat jauh darinya. Bahkan namaku saja dia tidak tahu. Aku mengeluarkan handphoneku dan mengetik sebuah pesan ‘Permainan bola yang bagus Sunbae ^^’ lalu aku menyentuh tombol send. Aku tersenyum kecil saat melihat pesan-pesanku yang kukirim secara rahasia kepadanya. Tentu saja dia tidak membalas karena mungkin saja dia mengira semua ini hanya pesan iseng

Sunbae yang bisa kulakukan sekarang hanyalah melihatmu dari jauh tapi tunggulah sebentar lagi dan aku akan menjadi sosok yang akan kau lihat.

****

Lu Han Ver.

“Berisik…” gumamku saat mendengar handphoneku berbunyi nyaring. Aku duduk di tempat tidurku sambil menatap malas layar handphoneku. Ternyata temanku menelepon. Aissh mengganggu saja, padahal hari ini aku tidak ada jadwal kuliah kenapa malah harus bangun pagi. “Yeobseoyo?” jawabku malas. “Xiao Lu, kamu hari ini tidak ada jadwal kuliahkan? Bisa bawakan tasku yang tertinggal di apartemenmu?” kata Xiu Min tanpa jeda.

Aku melihat ke arah meja belajarku. “Malas, tasmu kelihatannya berat. Lagipula aku tidak mau datang ke kampus hanya karena harus mengantarkan tasmu.” kataku dengan mata terpejam. “Ayolah, lagi pula hari ini hoobae yang selalu melihatmu ada jadwal kuliah jam 8.” katanya dengan nada menyebalkan tapi cukup membuat mataku terbuka. “Jinja?” tanyaku tidak percaya. “Buat apa aku bohong.” katanya. “Baiklah aku kesana. Awas kalau aku tidak bertemu dengannya hari ini.” kataku dengan nada mengancam. “Gomawo oppa. Nan gidaryo. Annyeong.” katanya dengan nada memuakkan. “Hya jangan panggil…” ucapanku terhenti ketika mendengar suara panggilan diakhiri.

Aku berdiri dari tempat tidur lalu berjalan ke arah lemari es untuk mengambil minum. Sejak tahun ajaran baru ini, ada seorang hoobae yang selalu mengamatiku. Sekali melihat aku tahu bahwa dia menyukaiku. Hahaha aku senang sekali melihat wajahnya yang merah setiap kali menyapaku. Meskipun aku tidak tahu namanya tapi harus aku akui aku sedikit tertarik dengannya.

Aku melirik ke arah jam. Jam 7.15!! Gawat aku harus segera mandi! batinku sambil berlari ke arah kamar mandi. Setelah selesai aku segera mencari pakaian yang akan kupakai. “Gawat aku belum mengambil pakaian di laundry. Kenapa yang tersisa hanya kaos-kaos jelek ini” gumamku sambil membongkar lemari baju. Setelah membongkar agak dalam aku menemukan baju yang menurutku layak dipakai. “Tahaengijwo, aku masih punya baju bagus.” gumamku sambil memakai baju itu.

Aku berdiri di depan cermin memastikan penampilanku. “Untunglah aku tampan sejak lahir. Memakai baju apa pun aku masih terlihat tampan.” gumamku sambil menata rambutku sekali lagi. Setelah puas dengan penampilanku aku segera mengambil tas Xiu Min dan kunci motorku lalu segera menuju kampusku.

Begitu sampai di lapangan parkir kampus, aku segera membuka helmku. “Aish rambutku jadi rusak.” gumamku sambil berkaca di kaca spionku. Setelah selesai aku segera melangkahkan kakiku ke arah gedung tempat aku berkuliah.

Chakaman, aku tidak boleh berjalan seperti ini, batinku setelah beberapa langkah. Aku lalu mengatur gayaku. Aku mengeluarkan earphone dari tasku dan memasangkannya di handphone yang kuletakan di kantung jeansku. Aku lalu menyampirkan tas di bahuku. Dan dalam sekejap gayaku yang sebelumnya seperti orang mengantuk berubah menjadi gaya seorang namja yang cool.

Aku lalu melanjutkan langkahku dan benar saja saat memasuki pintu masuk gedung aku melihat yeoja itu baru saja keluar dari toilet. Aku pun langsung berpura-pura membenarkan posisi earphone dan berusaha berjalan se-cool mungkin.

“Selamat pagi, sunbae.” katanya sambil tersenyum tapi aku bisa melihat kupingnya yang berubah menjadi merah padam. Hahahaha lucu sekali. “Ne.” jawabku sambil tersenyum kecil. Dan langsung saja aku bisa melihat pipinya bersemu merah. “Rin Ah-a. Ayo cepat masuk.” seru seorang yeoja yang terlihat seperti teman sekelasnya. Dan dia segera berlari memasuki kelas. Ooh jadi namanya Rin Ah. Ada untungnya juga aku mengantarkan tas si Bao Zi ini.

Aku lalu memilih untuk duduk persis di depan kelas yeoja tadi. Aku sempat melihatnya terkejut lalu tersenyum bersemangat ketika aku duduk di depan kelasnya. Yeoja itu benar-benar menyukaiku. Aah aku main saja dulu mumpung ada wi-fi kampus, batinku sambil membuka salah satu game online di laptopku. Aku bisa merasakan eoja it uterus melihatku tanpa sedetik pun mengalihkan pandangannya dariku.

Sesekali aku melihat ke arah lapangan untuk menyembunyikan senyumanku. Rasanya baru kali ini ada seorang yeoja yang menyukaiku seperti ini. Tapi yeoja itu aneh kenapa dia tidak memilih Yi Fan atau Joon Myun yang lebih tampan dan lebih memilihku?

“Xiao Lu!” seru seseorang. “Lama sekali. Aku sudah disini sejak jam 8.” gerutuku sambil menyerahkan tas Xiu Min. “Bukannya kelasku memang dimulai jam 10.” kata Xiu Min ringan. “Lho untuk apa kamu datang sepagi itu?” tanya Joon Myun bingung. “Lihat ke yeoja yang duduk di dekat pintu.” kata Bao Zi sambil menunjuk Rin Ah. “Aaa.. Araseseo.” kata Joon Myun sambil mengangguk mengerti. Yi Fan hanya tersenyum menyebalkan.

“Keugae wae?” tanyaku sambil menunjuk bola yang dibawa Bao Zi. “Ah ini aku bawa sebagai ucapan terima kasih. Kamu bisa menunjukkan kemampuan sepak bolamu ke yeoja itu.” kata Xiu Min sambil mengulurkan bola ke arahku. “Tumben kamu pintar.” kataku sambil tersenyum.

Kami pun segera berlarian ke lapangan. Aku harus mengeluarkan kemampuan terbaikku. Dengan semangat aku menggiring bola, membuat gol, dan berlarian di lapangan. Aku tertawa puas saat aku melihatnya tersenyum setiap aku mencetak gol.

“Kenapa hari ini kamu semangat sekali?” tanya Kris sambil terengah-engah mengejarku. “Tentu saja, aku kan ingin terlihat keren di depan yeoja itu.” balasku sambil tersenyum. Aku yakin semua namja ingin terlihat keren dihadapan seorang yeoja yang special.

Setelah lelah bermain bola, aku duduk di seberang lapangan untuk beristirahat. Aku melihat kelas yeoja itu telah selesai dan yeoja itu pun keluar dari kelasnya. Aku sadar dia menatap ke arahku, tapi sekarang wajah yang tadinya penuh dengan senyuman berganti dengan wajah sedih. Wae?, batinku

Tiba-tiba handphoneku bergetar. ‘Permainan bola yang bagus Sunbae ^^’. Aku tersenyum membaca pesan itu. Aku tahu, sangat tahu, bahwa sang pengirim pesan adalah yeoja itu. Tapi aku tidak pernah membalasnya. Aku tidak mengenalnya, bahkan nama pun aku baru tahu hari ini. Aneh bukan jika aku membalasnya? Aku melihat ke arah punggung yeoja itu yang berjalan menjauhi lapangan.

Keluarkan sedikit keberanianmu, tunjukan dirimu di depanku, agar aku dapat bersamamu dan aku tidak akan melepaskanmu

 

Cheorop

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s